Ada beruang di kota Balikpapan

Beberapa saat lalu, sepupu saya yang berada di Balikpapan menikah dan saya beserta si bocah dikirim untuk mewakili keluarga, sekaligus juga mendokumentasikan acara pernikahan tersebut. Bukan kebetulan tentunya, sudah lama sekali saya tidak berada di Balikpapan, belasan tahun, dan sekarang akan bertemu kembali, ibarat bertemu kawan yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Seperti apa ia sekarang? Sudah tumbuh jambangkah, cantik ga, menarik ga, dewasa tidak, adakah perubahan? Penasaran semacam itu menggerogoti benak saya selama penerbangan dari Bali ke Balikpapan, dengan transit di Makassar selama 6 jam. 6 jam? Beneran nih? Iya. Kan saya ga pernah ke Makassar, jadi, sengaja cari penerbangan yang transit di Makassar. Pengennya sih saat itu nginap di Makassar 1 atau  2 hari, sebelon ke Balikpapan. Kenapa ga? Mmmm…tiketnya dibeliin sih. Ga enak ati kwkwkwkw….

Trus, 6 jam transit ngapain aja? Ya cuma cukup untuk bolakbalik bandara – kota, pake taksi. Yang menyenangkan, bandara Sultan Hasanuddin ini memiliki layanan bus DAMRI dan saya selalu suka dengan kota yang memiliki layanan bus dari bandara ke kota. Kalau dengan taksi, bandara  ke kota Makassar sekitar 45 menit, dengan jarak 25 Km….di kota makan coto Makassar. Tapi begitu aja udah seneng banget. Makan coto Makassar di Makassar :).

Setiba di bandara Sepinggan, Balikpapan, lalu perjalanan ke rumah saudara, ternyata secuilpun ga ada kenangan semasa kecil yang nyangkut. Mungkin juga karena kota ini dari dulu emang jadi kota industri, ya perubahannya paling di infrastruktur doang. Lebih banyak bangunan, lebih padat, lebih macet. Mungkin kalo dulu kota industri dan sekarang berubah jadi kota pariwisata alam, baru kerasa bedanya ya. Atau kalo dulunya kota pariwisata, terus sekarang berubah jadi kota industri, atau dulunya kota besar lalu belasan tahun kemudian menjadi kampung berisi sekitar 100 KK, baru kerasa ya bedanya.

Dengan acara pernikahan yang cukup padat diselingi waktu yang diluangkan untuk obrolan-obrolan bersama, tak banyak waktu tersisa untuk ngubek-ngubek kota ini. Sekalinya sempat, itupun dengan mobil sewaan, jadi saya sama sekali ga tau biaya transportasi umum. Setidaknya, cukuplah untuk ke, antara lain, beberapa tempat di bawah ini. Lagian, minimal tujuan utama udah tercapai, mengikuti acara keluarga dan bertemu dengan keluarga di Balikpapan, om, tante, adik-adik yang cantik dan ganteng serta para keponakan.

Bukit Bangkirai

Bukit ini tak jauh dari kota Balikpapan, sekitar 1,5 jam. Pastinya di Jalan Raya Soekarno-Hatta Km. 38, kecamatan Samboja. Selain sebagai tempat wisata alam, Bukit Bangkirai memiliki canopy bridge sepanjang 64 meter dan setinggi 30 meter. Dari tempat parkir kendaraan, hanya perlu berjalan kaki kurang dari setengah jam aja kok untuk tiba di tower yang terbuat dari kayu ulin, melewati hutan rindang, dan menaiki tangganya yang lumayan curam itu. Dan…ada warung yang menjual makanan dan minuman juga. Abis naek turun kanopi, jalan-jalan di hutan wisata, pasti haus dan mungkin juga lapar. Kalo ga bawa bekal, mampir aja ke warung ini. Canopy bridge di Bangkirai ini yang pertama di Indonesia, lho…dibangun pada tahun 1998.

KWPLH

Pernah mendengar Beruang Madu, alias Sun Bear alias Helarctos Malayanus? Balikpapan memiliki Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) yang dibuka pada tahun 2008, sekaligus kawasan konservasi beruang madu, terletak di Jalan Poros Balikpapan – Samarinda, Km. 23. Meski tidak terlalu tertata rapi, saat saya datang lho…, pada saat itu, tempat ini cukup lengkap menjajakan informasi mengenai beruang madu yang menjadi maskot kota Balikpapan, di lokasi Pusat Informasi Beruang. Tempat informasi ini dikemas dalam suasana ceria dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Usahakan ke sini pada pukul 9 pagi atau 3 sore hari, untuk melihat sesi pemberian makan kepada beruang.

Penangkaran Buaya

Selain Bukit Bangkirai, ada juga penangkaran buaya, terletak di desa Teritip, 25 Km dari kota. Di sini, selaen ngeliatin buaya, kita juga bisa membeli berbagai produk berbahan buaya, bahkan telur buaya pun ada, di samping tempat penangkaran. Kalo demen ama wisata kuliner, bisa juga nyobain sate buaya yang dijual di sini, atau ngerasain tangkur buaya yang dapat meningkatkan energi. Cuma karena kami tiba sekitar pukul 6 sore, tempat ini udah tutup jadi saya ga sempat ngerasain macemmacem. Jumlah buaya yang berada di penangkaran ini cukup banyak, sekitar 1500-an ekor, dan buaya yang dimanfaatkan baik kulit ataupun dagingnya adalah jenis buaya Muara. Sebaiknya jangan terlalu terpana dengan menempelkan badan di pembatas ya, karena, katanya, buaya dapat berdiri dengan menggunakan ekornya. Jadwal buka sehari-hari dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore.

Kalo lagi di Balikpapan, sempatin ngerasain makanan olahan kepiting kota ini, Balikpapan termasuk sebagai salah satu kota penghasil kepiting lho…, terus beli oleholeh khas Balikpapan untuk keluarga dan temen di rumah ya…. 🙂 :). Jangan lupa, makan coto Makassar yang woooww…lezat nian di Coto Makassar H. Kasim, di pasar Klandasan. Warung coto ini terletak di pinggir pantai, nah…betapa enaknya bukan, makan santapan yang lezat sambil nikmatin udara pantai.

the wedding

Untuk melihat gambar saat saya di Balikpapan, silakan klik link ini

(Visited 64 times, 1 visits today)

2 Replies to “Ada beruang di kota Balikpapan”

  1. Very cool! Looks like a great time 🙂

    1. it was. really great time. hang out with family, go around the town. by the way, thanks for visiting

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: