Alor, salah satu pulau terluar Indonesia

Perjalanan tahunan dimulai. Dengan kapal Awu. Tiket sudah dibeli sejak 3 minggu sebelum keberangkatan, dan saking semangatnya, sampai 2 kali bolak-balik mendatangi kantor PELNI yang jauhnya dari rumah kami sekitar satu jam. Setelah tiket terbeli, sempat bertanya ke pak penjual, nomor tiket kok saling berjauhan, ga bisa ditukar ya, saya ama anak saya. Dengan bijaksana, pembeli di sebelah menjelaskan, di atas kapal, ga pake nomor, langsung aja pilih tempat, jadi, harus datang sedini mungkin supaya dapat tempat yang asik. Upss…

Dari pelabuhan Benoa, Bali, kapal Pelni Awu memulai penyeberangan ke pelabuhan Kalabahi, Alor. Ini pertama kali saya berlayar dengan kapal PELNI. 3 hari di dalam kapal. Terombang-ambing. Dan kami sangat bersemangat…dan nervous. Sejak jam12 siang sudah di atas kapal, padahal kapal baru berangkat pukul 3 sore. Cek di dalam kabin, sumpek dan panas. Begitu banyak orang, karena menjelang lebaran. Dan, kami pun memilih untuk ngetem di luar aja..dan sama juga sih, rame banget. Tapi paling ga, ada anginlah.

Awu
Pukul 3 sore teng teng, kapal pun berlabuh. Ole ole ole..go to the east, aye…wah..menyenangkan sekali kapal ini. Setiap sore ada jadwal pemutaran film. Karena lagi masa puasa, tiap jam sholat diumumkan dan para jemaah bersembahyang bersama. Syahdu…mendengarkan lantunan doa di tengah laut. Selain pemutaran fillm, ada juga acara live music saban malam.

Untuk makan, pagi, siang, dan malam kami mengantri mengambil jatah makanan dengan lauk yang yah …. mengenyangkan deh pokoknya, dan taat peraturan, karena tidak bervariasi. Tapi agak gimana gitu rasanya ngeliat para ibu-ibu membuka bekal lauk mereka untuk tambahan menu makanan. Dan siapa yang butuh teh dan kopi, tersedia gratis selama 24 jam, selama persediaan ada. Diisi terus sih ama petugasnya. Air panas? Apalagi…free. Siapin aja gelas.

Yang paling menyesakkan sebenernya…saat harus ke kamar mandi. Kamar mandinya sih banyak. Kalo di lantai 1 penuh, tinggal turun atau naek aja ke dek atas lagi, cari wc. Jadi, sebaiknya jangan cari wc pas udah kebelet … kecuali mau pipis dikit demi dikit di celana. Tapi, repot juga kan, ntar kalo kering baunya nyebar kemana-mana. Kalo orang laen doang yang cium sih gapapa, tapi kalo hidung sendiri? Itu masalah.

Saran saya, yang sebaiknya didengarkan. Segera pergi ke toilet saat desakan pertama membuang kemih terasa. Langsung cari toilet. Siapkan waktu secukupnya untuk muter-muter cari toilet lain, seandainya toilet penuh. Terutama di jam-jam orang biasanya mandi. Nah, karena kapal Awu ga nyediain kamar-kamar berkelas, semua toilet digunakan oleh semua orang, dengan kebiasaan yang berbeda-beda. Untuk air kemih, barangkali ada yang langsung disiram setelah pipis, ada yang dibiarkan gitu aja, disiramnya ada yang hanya satu centong, atau sekedar ada suara byur, ada yang bercentong-centong sampai air dalam kakus benar-benar berwarna putih. Tapi, mungkin karena kebanyakan hanya menyiram sekedarnya atau tidak menyiram, aroma toilet sangat mencekam. Bener-bener bau amoniak. Saya sih ga masalah ada di deket-deket toilet selama jam-jam toilet dibersihin, dan itu sekitar 4 sampe 5 kali sehari. Tapi di luar waktu itu, ga deh … mending masuk angin aja, tidur di luar. Selain karena kebiasaan para pemakai toilet, sebenarnya ini juga disebabkan karena penggunaan air yang dijatah. Aliran air hanya dijalankan pada jam-jam tertentu, selama beberapa jam saja. Ini menarik nih. Penggunaan air emang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat. Kalo air berlimpah, jangan dibuang-buang. Kalo air kurang, hemat sehemat-hematnya.

Pagi keesokan hari, kapal transit di Pelabuhan Bima, lumayan lama, sekitar 2,5 jam. Nah..transit semacam ini sangat bermanfaat untuk menambah sangu jajanan, ngerasain makanan lokal di warung-warung sekitar pelabuhan, serta ngerasain suasana di satu tempat, meski ga berapa lama. Esok subuh, kapal tiba di Pelabuhan Waingapu, bersandar sekitar 5 jam. Kami tidak turun, tidur nyenyak di lantai kapal. Sore, tiba di Pelabuhan Ende, transit selama 2 jam. Turun dong, liat-liat toko :). Esok subuh, tiba di Sabu, hanya nurunin penumpang, pagi, tiba di Rote, transit 2 jam. 4 jam kemudian, sampai di pelabuhan Kupang. Lama nih transit di Kupang, 5 jam. Kami sempatkan keliling kota, naik taksi dari pelabuhan mmmm… malam, kapal berlayar ke Pelabuhan Larantuka, tiba subuh, transit hanya satu jam. Pelabuhan Larantuka memiliki lanskap yang cantik sekali. Dan akhirnya, pukul 4 sore, kami resmi sampai di Pelabuhan Alor. Yeeee …. setelah tanya sana-sini, pake angkot ke penginapan di tengah kota. Malamnya, kembali ke pelabuhan untuk ngerasain seafood Alor. Dan…recommended deh.

Alor merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia, berbatasan dengan Timor Leste dan Selat Ombay di sebelah selatan. Seperti laiknya pulau dengan lanskap perbukitan, sudut-sudut Alor sangat cantik. Kayaknya gampang sekali ketemu tempat indah di sini. Ya iyalah, wong saya ga tinggal di sini :), jadi ngeliatnya sebagai orang luar. Di kota Kalabahi ada pasar-pasar tradisional, perkampungan, pesisir. Pasar Kadelang, pasar terbesar di kota Kalabahi, terletak dekat Teluk Mutiara, tepat di pinggir pantai. Sepertinya, hampir semua angkotan kota melewati pasar ini. Bilang aja turun di Pasar Kadelang. Pasar sentral tradisional ini menjual segala kebutuhan pokok, termasuk kain tenun Alor, madu, berbagai sayur, macam-macam deh. Selain menikmati interaksi setempat, di sekitar pasar juga banyak warung untuk nongkrong, menikmati pasar di pinggir pantai.

Kota Kalabahi, ibu kota kabupaten Alor, terletak di dalam Teluk Mutiara, berada tepat di pesisir pantai, dengan ombak yang sangat sangat tenang. Kayaknya, dari ujung ke ujung kota ini sangat strategis untuk nyemplung-nyemplung di pantai. Dan sepertinya, sebagian besar wisatawan Kalabahi pasti pengen diving, tidak termasuk saya tentunya. Untuk putar-putar kota atau ke tempat yang sedikit agak jauh dapat menggunakan jasa ojek, sewa motor, atau taksi. Recommended ya sewa motor dong, karena jalan di kota ini simpel-simpel aja, kalo nyasar, tanya aja orang sekitar. Pelabuhan Kalabahi berada di dalam kota Kalabahi, dengan berbagai penginapan. Sekitar setengah jam dari kota Kalabahi, ada pantai Mahi, pantai Mainor, yang ramai dikunjungi penduduk setempat, dan beberapa pantai lainnya. Berjalan kaki menyusuri pantai dari Mahi ke Mainor juga seru, sekitar 2 jam, sambil liat-liat perkampungan pesisir.

(Visited 64 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: