Bae Sonde Bae Kota Kupang Lebe Bae

Kalau tidak salah, sekitar 3 kali – … atau lebih?.. lupa, memori saya tidak pernah baik – saya sempat berada di kota yang cukup padat ini. Seingat saya, pertama kali, sebagai starting point perjalanan ke Flores. Kedua, sebagai starting point sewaktu pulang kampung ke pulau Sabu, terakhir, sebagai tempat transit sewaktu dari Atambua menuju Sumba.

Pertama kali melihat kota Kupang saat berlabuh di pelabuhan Tenau di malam hari, kesan saya seakan sedang mendekati kota pelabuhan padat terpencil dengan mata-mata penduduk mengintip dari jendela rumah mereka. Dengan lanskap kota perbukitan dan jalan naik turun, saya seakan mendatangi pulau kediaman si Janggut Merah. Saat itu saya ke Kupang dari Surabaya, dengan kapal cepat. Emang cepet banget, hanya hitungan belasan jam udah nyampe Kupang, dibanding PELNI yang makan berhari-hari. Tapi saya lebih memilih PELNI sih, lebih berasa, bisa jalan-jalan, bisa mampir sana-sini pas kapal transit. Lalu kenapa memilih kapal cepat? Karena, jadwal kapal PELNI masih sekitar 3 mingguan lagi baru ada, dan dana saya cukup bayak untuk pake kapal cepat, tapi tentu tidak cukup kalo pake pesawat.

Kok starting point melulu? Yap, betul sekali, kota Kupang, sebagai ibu kota NTT, bagi saya merupakan tempat yang strategis untuk melanjutkan perjalanan ke sana sini di wilayah Timur, dengan moda transportasi yang lumayan lengkap. Kota ini berada di antara Flores dan Sumba, salah dua dari begitu banyak primadona di daerah Timur. Dari Kupang dengan menggunakan kapal laut reguler mudah saja menuju Flores, berawal dari Larantuka. Atau ke Sumba, Rote, dan pulau-pulau sekitarnya. Itu kalo dengan kapal laut reguler, belon lagi dengan kapal PELNI yang secara rutin menyambangi pelabuhan Kupang. Dengan pesawat, jalur dari dan ke Kupang termasuk lengkap, bisa dari Timor Leste, Bali, Flores, atau Australia. Jalur darat di seputaran pulau Timor pun termasuk lancar, dari Kupang tak sulit mencari transportasi ke daerah sekitar Kupang, Atambua, atau langsung ke Timor Leste.

Sembari menunggu jadwal kapal yang kadang berubah-ubah, saya selalu menyempatkan untuk mengelilingi kota Kupang, meski hanya sebentar-sebentar. Seringnya sih dengan meminjam motor teman atau keluarga yang saya tumpangi menginap, dengan nyasar ke sana sini tentunya. Kalo ga mau nyetir motor atau mobil juga gapapa, transportasi umum mudah dijumpai di kota ini, begitu juga moda transportasi online.

Setiap berada di Kupang, saya tidak pernah punya tujuan khusus harus ke sini atau ke sana. Paling malamnya aja baru berencana, kayaknya besok kita ke sini yuk, atau kadang setelah sarapan baru mikir, kemana ya. Meski hanya sebagian tempat-tempat wisata di Kupang yang saya datangi, cukup layaklah untuk dibuat menjadi satu tulisan yang sedang bapak ibu om tante dik adik men temen baca ini.

Pasar

Kalau berada di suatu tempat, saya selalu usahakan mengunjungi pasar di tempat itu, ada sesuatu yang begitu orisinal dari rasa suatu pasar, aroma, interaksi, warna, suara. Yang suka liat-liat hasil laut, harus datang ke Pasar ikan kampung Solor, yang juga merupakan kawasan kuliner seafood. Pasar Kasih, di pusat kota, bagi yang mau membeli daging se’I mentah. Daging se’I merupakan daging asap, proses pengasapannya menggunakan kayu bakar jenis kayu Kusambi.

Outbond

Saat di Kupang bersama si bocah, karena tiap hari kami ke pantai yang hanya berjarak beberapa langkah kaki dari tempat kami menginap, dan kondisi badan saya lagi kurang baik untuk mengemudi agak lama, saya iseng mengajaknya ke lokasi outbond di Taman Nostalgia, dekat tempat kami menginap. Ia girang sekali dan penuh semangat. Ini kali pertama si bocah bermain outbond.

Bagi yang memiliki anak, keponakan, adik kecil, atau anaknya temen, dan akan atau sedang berada di Kupang, atau di kota lainnya, kegiatan outbond dijamin bakal disukai mereka, sebagai pengalih dari rutinitas ngegame. Selain outbond, Kupang juga memiliki beberapa waterpark, seperti Subasuka dan Kupang Waterpark.

Goa Monyet

Goa ini letaknya di pinggir jalan, antara kota ke pelabuhan Kupang. Ya gitu deh, untuk saya, semua tempat wisata yang objeknya monyet atau binatang ga banyak beda. Enaknya duduk agak lama, melototin polah para monyet, mikirin apa yang sedang mereka pikirin, ngamatin gerakan mereka, supaya ntar di rumah bisa dicoba-coba, baru bisa ngerasain. Kalo cuma sekedar dateng, moto-moto, ga terlalu berkesan sih.

Pusat oleh-oleh

Kalo emang niat berlibur, tempat oleh-oleh pasti jadi incaran sebagian besar pelibur. Kota Kupang punya banyak tempat oleh-oleh, dan pilihan variasi oleh-olehnya macam-macam. Sebut aja kain tenun ikat. Motif kainnya buanyakkkk banget dan keren-keren. Ada yang ditenun dengan pewarna alami, ada juga pewarna buatan, dengan harga lebih murah. Produk berbahan kayu cendana, seperti gelang, kalung, dan kerajinan lainnya.

                    

Daging se’I Kupang udah terkenal kemana-mana, tanya aja ke tetangga. Daging se’I ini tahan lama. Sewaktu almarhum ibu masih ada, beliau selalu membawakan saya daging se’i setiap abis pulang kampung. Daging itu saya potong kecil-kecil, lalu simpan di freezer. Kalo lagi pengen, tinggal ambil secukupnya lalu digoreng. Ga perlu lagi dikasih bumbu, karena selama proses pengasapannya sendiri sudah dipakein bumbu. Makannya ama sambel, upsssss rasanya duhhhh. Jagung titi, kudapan yang mirip-mirip popcorn tapi sedikit lebih keras. Almarhum nenek saya, yang memang berdarah Kupang, semasih hidup selalu memakan jagung titi yang dicampur dengan susu, jarang makan nasi. Sambal luat, sambal yang ditambah dengan daun kemangi dan jeruk nipis, ini pasangannya daging se’i. Ada juga gula aren, kue rambut, abon sapi, antara lain.

Pantai

Di Kupang, semua pantai asik. Garis pantai panjang, ombak tenang, pasir putih. Pantai Tablolong, Oetune, Kolbano, dan Lasiana. Ada beberapa lagi, bisa digugling. Kayaknya, semakin ke daerah timur, semakin mudah pula mendapat pantai-pantai idaman. Saya ke pantai Tablolong, yang sejauh mata memandang, hanya tampak pasir putih dan garis panjang pantai. Butir pasir seperti kerikil, dengan lubang-lubang air di pinggir pantai. Dan… tidak ada pengunjung lain di sana saat itu, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat. That’s a private beach created for me.

Bukannya saya mau nakut-nakutin, tapi kadang ada isu buaya di pantai. Jadi, pastikan dulu dengan penduduk setempat ya, sebelum nyebur bur gitu aja di pantai. Just like every path, every place has its own story, that you the stranger don’t know anything about it. So, make sure first, don’t judge.

Air terjun

Seperti pantai, Kupang juga punya banyak air terjun. Usahakan datang saat debit air lagi banyak, tanya-tanya dulu sebelumnya. Saya dan si bocah sempat dateng pas musim kering ke air terjun Oenesu. Tempatnya teduh, sejuk, liukan batu aliran air terjunnya bagus, tapi airnya ga ada. Karena kami dateng pas debit air kecil. Lumayanlah, masih ada aliran kecil, kecillll banget, setidaknya bisa ngedenger suara krecek krecek air.

Harusnya sih masih banyak lagi yang bisa didatengin di Kupang. Karena saya cuma nulis beberapa aja yang saya pernah datangi atau dengar, selanjutnya gugling yesssss. Kupang menarik, tidak semua tempat cukup lengkap memiliki air terjun, pantai, kerajinan, dalam satu paket.

Pulau Rote

Satu lagi. The last. Kalo pengen ke pantai ujung selatannya Indonesia, pergilah ke Rote. Dari Kupang tinggal nyebrang. Kalau menggunakan kapal cepat, sekitar 2,5 jam, berangkat dari pelabuhan Tenau. Kalau dengan kapal feri biasa, sekitar 4 jam, dari pelabuhan Bolok – sekitar ya … kurang lebihnya tergantung arus dan angin. Dua pelabuhan ini berdekatan kok, jadi kalo kesasar ke pelabuhan satu, ga sulit untuk langsung pindah ke pelabuhan laennya. Saya sering nyasar kayak gini, harusnya ke tempat A, nyasarnya ke B.

Saya ga tau dengan kalian, tapi saya selalu ingin bisa berada di tempat-tempat yang ‘katanya’, yang saya dapat dari obrolan dengan orang-orang yang saya temui di jalan, terutama penduduk lokal. Di Maritaeng, saya ada di sana karena ‘katanya’ bisa liat lampu di Timor Leste sana, selaen itu, Maritaeng ‘katanya’ salah satu pulau terluar Indonesia. Pantai Nembrala, saat saya berada di Kupang, ‘katanya’ adalah pantai paling selatan Indonesia. Dan saya kesana.

Setiba di pelabuhan Rote, ke desa Nembrala sekitar 2 jam dengan angkot. Ada banyak homestay di desa ini. Wajar aja sih. Nembrala termasuk dalam spot surfing kelas dunia, dan dari bulan Mei sampe September, Nembrala dan pantai sekitarnya, seperti Bo’a, Do’o, rame disambangi para surfer internasional. Eh… saya baru tau Nembrala itu terkenal juga setelah berada di desa Nembrala, lho. Dan, dari yang rencana cuma sehari, molor jadi beberapa hari saking asiknya tempat ini. Di sini saya cuma ke pantai Nembrala doang, selebihnya nulis, ngobrol ma penduduk, ngobrol ma sesama pejalan. Gitu aja setiap hari. Ga, saya ga habisin setiap hari dengan ngebir, kalo di jalan saya menerapkan paket hemat.

Salah satu penghuni homestay seorang ilmuwan dari Inggris. Bapak ini udah sekitar 2 minggu-an di homestay, ular yang membuat ia datang ke desa ini. Ia sedang meneliti salah satu jenis ular di Rote. Saya pikir-pikir, saya ama dia sangat mirip, kami sama-sama dateng di satu tempat berdasarkan dugaan. Bedanya, si bapak berbasis riset, saya berbasis intuisi.


Pulau Rote bukan hanya Nembrala aja kok, masih ada pulau Do’o, pantai Mulut Seribu, pantai Tolanamon yang berbentuk teluk, mata air Oemau, bukit Bebalain, pemandian Sulimatan, and so on. Cuma, karena sewaktu di Kupang yang saya denger hanya Nembrala, jadi kesanalah saya, dan hanya di sana aja, ga kemanamana lagi. Iya, saya orangnya fokus gitu, kalo udah nyemplung, langsung aja ke dasar. Kalo udah tertarik pengen ke situ, ya ke situ aja, ga ngeliat kiri kanan lagi.

(Visited 30 times, 1 visits today)

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: