belajar sejarah di Morotai

Waktu searching di web mengenai Maluku Utara, tempat ini selalu ada di dalam daftar utama mesin pencari. Kenapa? Karena gosong pasirnya yang ada di pulau Dodola. Lalu, dari sini baru ketauanlah bagi saya yang low-level banget dalam sejarah, kalo Morotai adalah pulau penting dalam masa Perang Dunia II, juga dalam sejarah bangsa Indonesia. Jadi begini, anak-anak …

Monumen Trikora dan Museum Perang Dunia II

Tahun 1944, Jendral Douglas MacArthur menjadikan Morotai sebagai basis untuk pembebasan Mindanao. Di sini juga terjadi pertempuran Sekutu dan Jepang tahun 1945 saat akhir Perang Dunia 2, terkenal dengan nama Perang Morotai. Morotai inilah yang menjadi kunci kemenangan Sekutu atas Jepang di Pasifik. Peninggalan masa itu dapat dilihat di dalam Museum Perang Dunia II. Museum ini dapat menjadi lebih menarik, seandainya terawat. Semoga ya …

Morotai pun menjadi salah satu pangkalan terluar yang sangat penting untuk penyerangan terhadap Belanda di Papua, kembali ke tahun 1960-an. Untuk memperingati sejarah ini, didirikanlah Monumen Trikora di Desa Juanga, yang diresmikan pada tahun 2012. Monumen ini berada pada lokasi yang sama dengan Museum Perang Dunia II.

Satu lagi kisah sejarah yang melekat di pulau kecil ini adalah sejarah mengenai Permesta, yang tak kalah sarat dengan cerita-cerita heroik menarik. Sebelum kita bergelut dengan sejarah, baca aja linknya ya …. 🙂


Kami berangkat ke Morotai dari Ternate, dengan kapal KM Geofani. Sebenarnya ada juga pesawat dari Ternate ke Morotai, tapi entah berjalan entah tidak saat itu. Bandara sih ada di Morotai. Pukul 8 malam, kapal Geovani berangkat dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Tak lama pelayaran ini, hanya sekitar 11 jam, dan lengkap dengan menu kapal laut. Iya, setelah berlayar selama sekitar 19 jam dari Manado ke Ternate, durasi ini sih terbilang pendek, apalagi kalo kamu tau cara memanfaatkan waktu di dalam kapal. Pukul 7 pagi, kami tiba di pelabuhan Daruba Morotai. Entah disengaja entah tidak oleh alam Morotai, kedatangan saya di pelabuhan ini langsung disambut oleh pelangi di ufuk sana.

Kapal, laut, dan pelangi, apalagi coba yang kamu harapkan? Saya sebut ini ‘sempurna’.

Pelabuhan Daruba Morotai lumayan cantik, dengan berbagai kapal dengan berbagai bentuk, dan lautan teduh… halah, ini tulisan ngalor-ngidul namanya.

Setelah turun dari kapal, kami langsung nongkrong di warung penjual nasi bungkus dan kopi. Sebenarnya sih ga terlalu lapar, lebih didorong ama penasaran, seperti apa sih dalemnya nasi bungkus di Morotai. Ternyata, ga heboh-heboh banget. Standarlah isinya. Tadinya, saya pikir akan melihat abon ikan, sambal teri, telur ikan tuna. Ah.. ekspetasi saya terlalu berlebihan rupanya.

Dermaga speedboat yang menuju Pulau Dodola berada dalam satu lokasi dengan dermaga kapal yang kami tumpangi. Tinggal mampir ke loket, beli tiket, dan tunggu aja kapan giliran speedboat berangkat. Karena dasarnya saya orang baik, rejeki kerap menghampiri dalam berbagai bentuk. Kali ini, berbentuk tumpangan separo harga naik speedboat bareng ama orang-orang dari dinas pemerintah di Ternate yang sedang berlibur. Mereka satu kapal dengan kami dari Ternate. Ah… hidup, betapa aku mencintainya.

Sebentar banget jarak pelayaran dari Pelabuhan Daruba ke Pulau Dodola, hanya sekitar 15 menit. Mendekati Pulau Dodola, silau pasir sudah mencekik mata. Iya, pasir Pulau Dodola putihnya putih banget dan halus. Sangat silau. Terik. Mata saya selalu terpicing sedikit selama berada di pulau ini. Tidak bergerak pun keringat keluar. Bagi saya, ini tempat terpanas di Indonesia yang pernah saya kunjungi sejauh ini. Mengalahi Larantuka yang sebelumnya saya anggap sebagai kawah candradimuka cuaca panas. Di Dodola sudah ada resort, satu saja, yang mendominasi hampir sebagian besar tempat di pulau ini. Di Dodola sudah ada rekreasi laut, dari snorkeling sampe parasailing. Di Dodola tidak ada warung, selain yang dimiliki oleh resort. Upsss.. itu bukan warung, ya, tapi restoran. Di Dodola pada hari libur rame oleh wisatawan lokal dari seputaran Maluku Utara.

Nah, mengenai gosong pasir yang terkenal ini. Saat pasang, pulau Dodola terpisah menjadi 2 pulau, Dodola Besar dan Dodola Kecil. Saat surut, terbentuk gosong pasir yang menghubungi antara Dodola Besar dan Dodola Kecil. Gosong inilah yang menghiasi layar monitor atau smartphone saat kalian searching mengenai Morotai. Udah jelas kan sekarang… eh, jangan ga jadi ke sini ya, baru saya jelasin. Saya tunggu kalian di Morotai ya ….

Setelah menitipkan daypack di loket resort, mereka ramah-ramah kok, ga seperti resort lainnya 🙂 di tempat lain, saya ama si bocah mulai bertingkah seperti para explorer, mengelilingi pulau seuprit ini. Harta yang kami temui, rombongan penduduk kampung dekat pelabuhan Daruba yang sedang pesiar ke Pulau Dodola. Mereka pake 2 perahu dari kampung mereka, dan menghabiskan waktu seharian di pulau ini. Apa mereka bawa bekal piknik? Hanya sambal dan nasi. Lauknya? Beberapa dari mereka kembali ke laut, memancing ikan, dan tak butuh waktu lama, mereka sudah kembali dengan sejumlah ikan yang langsung, ada yang digoreng, ada yang dibakar. Dan karena saya udah terlanjur akrab, ngobrol-ngobrol dengan para mamak di rombongan ini, dan si bocah udah akrab bermaen-maen dengan anak-anak mereka, pastilah kami diajak makan bareng.

Meski tak bosan menujamkan pisau yang selalu terasah baik ke dalam jantung saya, bisa dikata, hidup memanjakan saya. Ini hanya mengenai cara pandang saja, bukan begitu sayang …

Kami yang datang tanpa bekal makanan apapun, tanpa uang berlebih, dan sudah bertekad tidak makan apapun sampai tiba kembali di Morotai, atau di pulau lain yang harga makanan jauh lebih murah dibanding harga makanan di resort, hari ini di siang hari ini, kekenyangan dengan limpahan nasi, bertumpuk ikan matang, dan sambal yang ya ampun… lezatnya. Setelah itu, kami berfoto-foto dengan hp para penduduk. Bergantian. Ga cuma satu atau dua hp. Salah satu bapak dalam bilangan usia sekitar 60 tahun, dengan mantap menaruh tangannya ke bahu saya, lalu meminta salah seorang di sana memfoto dirinya dengan saya. Dalam hati saya berujar, terima kasih Tuhan, saya bukan seorang seleb. Tidak terbayang harus menjalani sesi foto semacam ini lebih dari sekali.

Saya lalu memohon pamit, untuk berjalan-jalan dari Dodola Besar ke Dodola Kecil, yang hanya butuh waktu sebentar saja. Yang beratnya bukan jauh dekatnya, tapi, kembali lagi, sengatan matahari. Tadinya, saya berpikir setelah seminggu lebih di kota Larantuka, saya sudah melewati candradimuka panas bumi. Ternyata saya salah. Di Dodola ini saya menemukan rasa panas yang baru kali ini saya rasakan. Seharusnya panas semacam ini diimbangi dengan suhu air laut yang sedingin es. Itu baru pas. Seimbang. Harmonis. Tapi, ternyata tidak. Suhu air laut di sini normal-normal saja.

Setelah menelusuri pulau dengan perut kenyang, kembali mengobrol dengan penduduk, saatnya memikirkan kemana kami akan tidur malam ini. Jelas tidak di resort pulau Morotai. Berdasarkan saran dari beberapa staf resort, kami memutuskan bermalam di pulau Korolai dekat Dodola, pulau asal sebagian staf tersebut. Menjelang sore kami kembali dengan perahu yang juga mengangkut salah satu staf ke Morotai, menurunkan kami sebentar lalu perahu lanjut lagi ke Morotai. Ah, paling tak sampai 15 menit dari Dodola ke Korolai.

Cukup banyak homestay di Pulau Kolorai, udah keliatan ini sebentuk pulau pariwisata. Harga homestay sudah seragam dan include makan 3 kali sehari, juga ada petunjuk jalan desa. Sebelnya, sepertinya daerah sini udah keburu didatangi ama pelancong Jakarta ama turis luar, sebelum backpacker masuk ke sini. Jadi, standar harga kamar disesuaikan dengan kantong para pelancong tersebut. Seperti ujar ibu pemilik homestay yang kami tumpangi, “Harga ini berdasarkan saran dari turis-turis yang menginap di sini, waktu homestay baru dibuka.” Duh Bu, seandainya dulu saya yang terlebih dulu datang …. Menjadi yang pertama selalu asik ya, karena jejaknya selalu ada…. eh..

Sewaktu pulang, bisa dikata kami menyewa kapal dengan harga publik, karena isinya ya cuma kami doang. Dan, kami meminta pak nakhoda untuk melewati pulau Zum-zum, pulau yang memiliki patung Jendral McAarthur. Kami tidak turun, hanya melewati depan patung yang berdiri kokoh itu. Tiba di pelabuhan Daruba, check-in (halah… check-in) di penginapan yang bisa dikata masih dalam satu lokasi pelabuhan. Deket banget. Murahlah pasti. Dan ributlah pasti. Karena, angkutan umum di sini seperti juga di Ternate dan Manado, tape musik diciptakan untuk memutar musik sekencang-kencangnya. Saya berasa berada di tengah diskotik, karena, kebetulan jendela kamar langsung menghadap ke jalan raya, tempat para angkutan memarkir kendaraan menunggu penumpang.

Karena kebetulan sudah ada temennya temen di Morotai, si Rafli, dan ia dengan senang hati mau mengantar sepasang ibu dan anak yang tidak jelas ini untuk putar-putar kota Morotai, berlanjutlah acara keliling kota Morotai, yang berawal dan berakhir di Taman Kota Morotai. Tempat ini semarak dan penuh dengan berbagai aktivitas penduduk setempat, terutama di sore hari. Jajanan dan menu setempat, yang tak jauh dari ikan dan ikan, layak dicoba di taman kota. Dan, sunset di sini juga fuhhh….. keren banget.

Sekeliling kota Morotai penuh dengan peninggalan benda-benda perang. Di gerbang masuk Taman Makam Pahlawan saja dipasang kemudi pesawat… asli. Di beberapa tempat, tak jauh dari kota, masih ada tank-tank peninggalan Perang Dunia II.

Patung Teruo Nakamura
Untuk saya, yang tidak tahu menahu tentang sejarah, maapkan aku, ini menarik. Di pertigaan pinggir jalan kampung, hanya kurang dari 15 menit dari pusat kota, eh ndilalah ada satu patung tentara. Dari sinilah saya baru tahu patung ini dibangun untuk mengingat serdadu yang bernama Teruo Nakamura, seorang sukarelawan militer tentara Jepang yang berasal dari Taiwan. Ia ditemukan kembali pada tahun 1974. Bukan ditemukan kembali sih tepatnya, karena sebelumnya ia pun sudah berinteraksi lama dengan beberapa penduduk setempat. Ditangkap? Ga juga sih, karena kan perang sudah selesai. Nah…. meski ia akhirnya dipulangkan ke Tiongkok dan bertemu dengan keluarganya, cerita pemulangan dirinya sama tidak lancarnya dengan kisah dongeng-dongeng HC Andersen, karena masalah status kewarganegaraan yang ia miliki dan posisi kemiliterannya. Okelah, baca saja lengkapnya di sini.

Air Kaca
Pemandian ini tak jauh dari kota Daruba, ibu kota Morotai, dan mudah ditemui, karena berada tepat di pinggir jalan besar dan dilengkapi dengan papan nama. Air Kaca berupa goa dengan mata air yang sangat jernih dan menjadi tempat permandian kesukaan Jendral Douglas MacArthur. Tempat ini teduh, dikelilingi pepohonan dan berbagai tulisan baik dari sang Jendral sendiri ataupun tokoh lainnya. Di sini, kami bertemu yaki, monyet hitam Sulawesi yang berbulu hitam dan berbokong merah. Ia tidak berasal dari sini, tetapi ditangkap di …. salah satu daerah di Maluku Utara, lalu dibawa ke Air Kaca dan dirantai. Saya terbahak saat melihat seekor Yaki di Air Kaca. Jauh-jauh ke Cagar Alam Tangkoko di Bitung mencari Yaki dan tidak ketemu, eh… ketemunya malah di Morotai, dalam keadaan terantai. Semoga bukan tanda buruk untuk masa depan Yaki. Halah….. apaan sih.

Dari Morotai, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Ternate, kali ini dengan rute Pelabuhan Ms Lastori, Morotai – Pelabuhan Tobelo dengan kapal feri sekitar 2 jam, lalu jalan darat dari Tobelo ke Jailolo, lalu menyeberang ke Ternate.

Untuk gambar lain di Morotai, masuk ke sini ya.

(Visited 86 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: