Berakrab dengan alam di pulau Ternate

Tau ga, ada sekitar 20 pulau di sekeliling Alor, dan baru 9 di antaranya yang sudah berpenghuni! Kalo mau mengelilingi seluruh pulau tersebut, berapa lama waktu yang dibutuhkan ya ….

Kami berkesempatan mendatangi pulau Ternate, salah banyak dari pulau di Alor. Ternate? Bukannya Ternate ada di Maluku sana? Iya, tapi di Alor juga ada pulau Ternate. Sekitar abad ke 15, agama Islam masuk ke Alor dari Kesultanan Ternate di Maluku sana, mungkin itu juga mengapa ada Ternate di Alor.

Ga da rencana ke Ternate, sebenernya. Begini … kapal yang akan kami naiki, dijadwalkan akan berangkat dari Alor 2 hari lagi. Tetapi, karena angin dan arus kencang, kapal tidak jadi datang, diundur menjadi sekitar 4 hari lagi. Dan itulah kenapa akhirnya kami menghampiri Ternate. Tadinya mau ke pulau Pantar, tetapi karena perjalanan cukup jauh, sekitar 2 jam dari Alor dengan kapal, ditambah sekitar 4 jam ke desa yang hendak kami tuju, dan belum pastinya kapal berangkat dari Pantar ke Alor, tergantung sepenuhnya pada cuaca, udah deh..ke Pantar di-pending dulu, next time.

Dari kota Kalabahi, sekitar 45 menit dengan angkutan umum ke pelabuhan rakyat menuju pulau Ternate. Kalo dana pas-pasan, ato solo traveling, bilang ama bapa supir angkut, turun di pelabuhan rakyat, jadi bisa bareng ama penduduk Ternate yang mau pulang ke pulau dari pasar. Bilang aja turun di Beringin. Ingat, pagi sekitar jam 7 sebaiknya udah ada di dermaga. Kalo nyebrang lewat pelabuhan Alor Kecil, biasanya perahu dicarter.

menyusuri pulau Ternate

Nyebrang ke pulau Ternate ga lama, sekitar 45 menit-an, tergantung ama arus, kalo arus kencang, perahu akan muter sehingga waktu tempuh sedikit lebih lama. Menurut saya, pulau Ternate ini seperti apa ya, emas di dalam lumpur? Berlian di tengah tumpukan uang? Gini deh, saya jelasin. Setelah menyebrang laut dari Alor Kecil, perahu akan menyusuri pulau Ternate di sisi samping, pemandangannya ya biasa aja, lazimnyamenyusuri pulau, lalu, tiba-tiba sim salabim ketemu pantai luas dan lebar, pasir putih, jauh dari ombak. Nah…apa namanya kalo gitu hayo.

Begitu turun di desa Umapura (salah satu dari 4 desa yang ada di pulau Ternate), kami langsung silaturahmi ke rumah Bapak Kepala Desa, Bapak Rahman Kasim, dengan istrinya, mama Ramsiah. Lho, kok kamu kenal? Kan kenalan. Silaturahmi sekalian numpang tidur. Kok boleh? Ya bolehlah, secara saya orang baik, dengan ketulusan dan kebaikan yang hanya keluar saat di jalan saja. Saat itu, lagi bulan puasa. Tetapi, ibu kades dengan ramah mempersilakan kami menyantap makanan ‘apa adanya’ yang ada dalam lemari, yaitu lobster dan ikan kulit pasir. Uh uh uh….menu itu kata mamak kades, sangat seadanya lho…wah..definisi ‘seadanya’ kami berbeda rupanya. Rejeki anak soleh.

Setelah kenyang, langsung aja jalan-jalan keliling desa Umapura, yang paling cuma sekitar sejam kurang. Di atas desa ada sumur besar, salah satu dari dua sumur sumber mata air yang ada di pulau Ternate. Sore-sore gini, para mamak lagi nongkrong di depan rumah. Bukan bergosip sambil nyari kutu rambut, tapi bergosip sambil menenun kain. Dan itu dilakukan oleh rata-rata perempuan di desa ini di waktu senggang mereka, dari umur belasan sampai puluhan. Tak heran, pulau Ternate ini dikenal sebagai salah satu sentra kain tradisional Alor di pulau Alor. Di desa Ternate, ada beberapa kelompok pengrajin kain tradisional. Sore itu, saya berkunjung ke rumah Mama Sahari, salah satu ketua kelompok, mendengar ceritanya mengenai kain tenun tradisional Alor dan bahan pewarna alami untuk kain, yang berasal dari sekeliling, darat dan laut. Tak sadar, saya seperti ditarik mundur ke masa ketika semua begitu sederhana. Ketika untuk membuat motif karang laut di atas kain, spon berwarna biru dan siput laut menjadi pewarnanya, ketika untuk membuat motif kura-kura, bulu babi dan spon kuning menjadi pewarna, dan, untuk motif cumi-cumi, air kelapa, rumput laut, siput laut, akar kuning, menjadi racikan sumber warna. Begitu arif. Begitu sederhana.

menenun depan rumah
lagi ditinggal bentar ama mama

Gimana, tertarik memiliki kain Alor namun terlalu sibuk untuk ke Alor? Boleh kok pesen ama saya.

Karena menjelang buka puasa, saya sempat ngeliatin pembuatan kue rambut di dapur salah satu mama. Kue rambut ini pangan khas NTT, terutama di Alor, yang terbuat dari tepung beras, gula palem, dan nira. Wah…enak dan renyah banget. Sambil ngobrol ama mama yang lagi buat, ga terasa saya udah ngabisin sekitar 10 kue, lalu saya cepat-cepat keluar dari dapur, setelah pamit tentunya. Emang sih, setiap kue di tangan habis, saya langsung ditawarin lagi, cuma saya mikir, kalo saya makan terus, kapan kue rambutnya si mama bisa jadi banyak? Padahal waktu buka puasa sebentar lagi. Sebagai tamu yang tahu diri, lebih baik saya pamit, bukan.

membuat kue rambut

Di rumah pak Kades, jamuan buka puasa sudah menunggu. Dengan menu yang ala hotel bintang 5, ato ala ikan bakar Jimbaran. Duh kalo udah kayak gini, saya ga pengen pergi kemana-mana deh. Pengennya di pulau Ternate aja, makan seafood ama kue rambut 🙂 :), dan belajar buat pewarna alam, agar bisa mewarnai langit dengan tiram dan pasir. Sehingga tidak perlu menunggu hujan atau matahari untuk melihat langit berubah warna.

Berbeda dengan cuaca laut saat datang, saat hendak kembali ke daratan Alor, kami harus menunggu beberapa jam sampai ombak tenang. Awalnya bingung juga, kenapa mereka tahu ya kalo ombak lagi kencang? Padahal di pinggir pantai, kayaknya ombak biasa-biasa aja deh. Ternyata…patokannya ombak yang ada di tengah laut sana. Jika ombak di tengah laut besar, berarti arus kencang, jika tidak, sampan dapat menyeberang ke daratan Alor.

Sedikit petuah.

Terkadang, orang luar ato turis, diminta untuk membayar lebih dibanding orang lokal. Ya gapapalah, apalagi kalo di daerah terpencil yang jarang didatangi.

Jika memang berniat membeli kain tradisional Alor, lebih baik langsung membeli di pulau Ternate, langsung di penenunnya. Toh jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Kalabahi.

Dan, jangan buang sampah sembarangan serta hormati budaya setempat.


Untuk melihat berbagai gambar di pulau Ternate, Alor – Flores, silakan klik link ini.

menenun di dapur

 

(Visited 214 times, 1 visits today)

2 Replies to “Berakrab dengan alam di pulau Ternate”

    1. thanks a lot for stopping by 🙂

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: