di Pangabatang, debur ombak menjadi pelantun tidur

Setelah keliling beberapa hari di Maumere, Flores, sudah saatnya harus segera ke Larantuka, supaya bisa tiba lebih awal sebelum acara Semana Santa. Sehari sebelum berangkat, denger kabar kalo di Teluk Maumere, ga jauh dari Maumere, ada pulau cantik. Nyebrangnya dari desa Nangahale, hanya sekitar setengah jam. Nah….ini dia. Masalahnya, si temennya temen yang ngasih info itu, lupa apa nama pulau itu. Dan kebetulan, tidak hanya satu atau dua pulau di Teluk Maumere, tapi sekitar 17 pulau.

Pagi-pagi udah nongkrong manis di pinggir jalan raya, nungguin bis yang ke Larantuka, Flores. Nunggu sejam, kok ga lewat-lewat ya…ah, ke ATM bentar. Pas balik dari ATM pake motor pinjeman, ditelpon dan dikasih kabar kalo baru aja bis yang ke Larantuka lewat. Duh…selisipan begini ya namanya ga jodoh.

Balik lagi ke tempat nungguin bis, dikasih tau ama ibu warung, kalo udah jam segini sih, bis yang ke Larantuka mah udah jarang. Duh….apa sih maunya bis ini.

Ini bukan baru bener-bener pertama saya ke Flores, tapi pertama setelah beberapa tahun tidak ke sini. Jadi, saya pikir wajarlah saya jadi ngelupain betapa tidak konsistennya angkutan umum di Flores ini.

Setelah setengah jam nunggu dan memang tidak ada bis lagi yang nongol, saya putusin untuk ke terminal Lokoria aja, terminal untuk angkutan Maumere-Larantuka, ga jauh, hanya sekitar 15 menit pake bemo dari tempat kami nongkrong nunggu bis. Semua bis ke Larantuka juga pasti ngelewatin terminal itu. Kalopun ga dapat bis, ya udah estafet aja, angkutan mana aja yang dapat. Lebih baik bergerak, daripada diam.

Di terminal, baru aja turun dari bemo, langsung aja ketemu bemo lain yang mau jalan, ngelewatin desa Nangahale, di Teluk Maumere. Tuh kan….ini yang saya maksud, lebih baik bergerak daripada diam. Kalo diam, kita ga bakal ketemu apa-apa, cuma mentok. Kalo bergerak, pasti ada aja sesuatu yang baru, berbeda.

Dari terminal Lokoria ke desa Nangahale, butuh waktu sekitar 45 menit dengan bemo. Setelah itu, berjalan kaki beberapa menit, dan tibalah di, yang kata orang di bemo, ‘dermaga’ Nangahale. Lha…kok sepi ya, tidak ada satupun sampan di pinggir pante. Males menebak-nebak, kami menuju salah satu bedeng di pinggir pante yang sepertinya berpenghuni. Ternyata, wah beruntung sekali, ternyata itu bedeng tempat membuat garam. Kenapa beruntung? Ya, karena kami jadi bisa ngeliatin proses membuat garam :). Di dalamnya ada seorang mamak, yang dengan sabar dan ceria menjelaskan proses pembuatan garam kepada dua orang ibu dan anak yang dengan mendadak nongol di bedengnya. Setelah penjelasan selesai, mamak sepertinya teringat dengan ‘ini siapa ya orang-orang ini?’, lalu bertanya, mau ngapain di sini. Dengan polos saya njelasin, “Saya mau ke pulau yang katanya bagus itu lho mak, dan orang-orang bilang kalo mau ke pulau itu, naek kapalnya dari Nangahale. Tapi, saya ga tau nama pulaunya apa. Jadi, saya ga tau mau kemana. Yang pasti, ke pulau yang bagus itu.”

Di titik ini, saya menganggap titik nol. Titik awal. Ketika saya punya tujuan tapi tidak punya arah. Dan si mamak dengan gembira memberi saya arah, menganggap telah menyelamatkan saya. Kalo di kartun, muncul gambar lampu di kepala..tuing tuing.

Dengan semangat, mamak menyuruh kami menunggu di gubuk itu, dan ia kembali ke desa, mencari nelayan untuk mengantar kami ke pulau Kojadoi (menurut mamak, ke pulau itulah tujuan saya) dan saat itu siang terik, panas, menyengat. Ga berapa lama, datang seorang bapak, rupanya nelayan yang dipanggil mamak untuk mengantar kami ke pulau Kojadoi. Sayang, tidak ada kesepakatan harga antara kami. Biaya yang diminta untuk ke Kojadoi terlalu tinggi, jauh melebihi bujet yang kami miliki. Ibaratnya, kalo kami tetap ke Kojadoi dengan biaya tersebut, berarti kami harus cari transportasi gratis ke Larantuka, dan tidak bisa makan selama beberapa hari. Duh…tidak mampu.

Akhirnya, kami berjalan ke dermaga lama, melewati kampung, dan berpapasan dengan si mamak yang akan kembali ke gubuk garamnya. Sudah pasti mamak bertanya, kenapa tidak jadi. Dan kembali dengan polos saya menjelaskan, “Mahal mak, saya coba tanya-tanya di dermaga lama saja“. Mamak dengan menghela napas berujar, “Memang segitu harganya, solar mahal”, dengan ekspresi ya sudah, kamu sudah memilih jalanmu sendiri, aku tidak bisa membantumu lagi.

dan saya lelah. kepanasan. 15 kg di belakang, 5 kg di depan.

Setelah jalan beberapa belas menit yang seperti beberapa jam, tibalah di dermaga lama. Dan akhirnya, setelah berbincang-bincang dengan orang-orang di dermaga, akhirnya, ketemu juga pulau yang sebenarnya hendak saya tuju. Namanya, Pulau Pangabatang. Bukan Pulau Kojadoi, meski Kojadoi sendiri tidak kalah cantiknya dengan Pangabatang. Karena, kata temen di Maumere, nyeberang ke pulau yang cantik itu tidak terlalu jauh.

Dan…nego dan nego, berlayarlah kami dengan biaya yang masih bisa kami tanggung. Wajar sih, karena jarak ke Pangabatang cuma sekitar 45 menit, sedangkan ke Kojadoi sekitar sejam.

Tiba di Pangabatang, tidak keliatan siapa-siapa, selain sekelompok orang agak jauh di pemukiman. Sepi. Tidak ada bule atau wisatawan lokal. Pantai bersih. Pasir putih. Rumah-rumah panggung. Beginilah seharusnya sebuah pulau.

bersama anak-anak Pangabatang

Kalo mau dramatis, bisa ditulis, saya tercekam dengan kecantikan Pulau Pangabatang saat pertama tiba di pulau ini.

Tetapi, sebelon dikerubuti ama penduduk setempat, sebelon kekaguman saya malah jadi senjata makan tuan karena dianggap ga sopan lebih mentingin pemandangan daripada silahturahmi, saya langsung beralih ke penduduk setempat yang udah pada merhatiin siapa nih yang datang. Saya buru-buru mendatangi mereka, memperkenalkan diri, dan meminta ijin untuk menginap.

Dengan ramah, mereka mempersilakan kami untuk menginap di salah satu rumah penduduk. Beberapa jam kemudian, setelah berbincang, mengatur kerir, berbelanja di salah satu warung, kami bersantai mengelilingi pulau Pangabatang ini, beramai-ramai dengan anak-anak di sana. Sudah pasti seru, bernyanyi…berenang…nyebur…kejer-kejeran…mengamati pasir….mengagumi gradasi warna air laut…

Hanya sekitar 100 KK yang tinggal di Pangabatang dan pulau kecil ini sebenarnya termasuk dalam zona merah bencana, tetapi, bagaimanapun, mereka tetap memilih berada di Pangabatang, ketimbang dipindahkan ke tempat lain. Pada tahun 1992, selain Pulau Babi dan beberapa pulau lain, Pangabatang juga terkena dampak Tsunami. Menurut cerita, saat tsunami tiba, mereka mengungsi ke bukit yang ada di pojok pulau.

Saat malam, saat berbaring menyambut kantuk di dalam rumah kayu panggung, bagi saya keheningan pulau begitu cantik, diiringi debur ombak dan suara obrolan yang semakin pelan, terganti dengkur.


Untuk menengok gambar-gambar lain di pulau Pangabatang, silakan masuk ke halaman ini.

(Visited 86 times, 1 visits today)

3 Replies to “di Pangabatang, debur ombak menjadi pelantun tidur”

  1. Halo salam kenal ^^
    Wah flores ya, hmm masih menjadi anhan2 saya untuk kesana hehe apalagi itu ikut semana santa patut dijadikan agenda hehe.

    1. salam kenal juga 🙂
      Semana Santa seru banget…

  2. Wandering soul. This caption touched me deep. Then your beautifully woven write up. I loved all.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: