dengan Danau Rana, aku belum berjodoh

saya suka pulau ini karena hanya terdiri dari 4 abjad. b u r u. ya memang, saya sesederhana itu, kalian aja yang seneng nganggap saya ribet.

Yang langsung kami ingin datangi, Danau Rana, dianggap sebagai inti dari Pulau Buru. Tetapi, perjalanan itu layaknya jodoh. Saat itu, saya tidak berjodoh bertemu dengan Danau Rana. Jalan terpotong longsor. Akhirnya, kami ke Teluk Bara. Seperti biasa, pertemuan selalu berarti sesuatu, jelek ataupun baik. Pertemuan dengan salah seorang ABK kapal pengumpul ikan membawa kami ke kampung Nanali, sekitar 4 jam dari Teluk Bara, menumpang dengan kapal ikan. Di Nanali, saking betahnya, kami menginap beberapa hari, lalu berlanjut ke Savana Jaya. And the story goes….


Dari Ternate, Maluku Utara, kami beralih ke Pulau Buru, yang terletak di Maluku. Pulau Buru ini salah satu dari 3 pulau terbesar di kepulauan Maluku, yaitu Pulau Halmahera di Maluku Utara, Pulau Seram di Maluku Tengah. Perjalanan dengan kapal PELNI Sangiang, memakan waktu sekitar 37 jam, satu setengah hari. Kapal PELNI Sangiang ini berlayar di daerah Indonesia Timur bagian atas. Ternate hanyalah salah satu persinggahan dari begitu banyak pelabuhan yang dihampirinya. Berangkat dari pelabuhan Ahmad Yani, Ternate, pukul 9 pagi, sekitar pukul 8 pagi keesokan harinya Sangiang transit di Sanana, ibukota kabupaten kepulauan Sula, lalu lanjut lagi langsung ke Pulau Buru dan tiba pukul 9 malam di pelabuhan Namlea. Dalam 1,5 hari itu, waktu lewat begitu aja dengan tidur, baca, jalanjalan keliling kapal. Saya suka laut, selalu suka. Karena itu, saya betah-betah aja berada di dalam kapal. Dan tau-tau aja, daratan terlihat, aye aye kapten….

Kalo punya waktu panjang dan fleksibilitas tinggi, sebenarnya mudah sekali menyusuri kepulauan Maluku Utara, Maluku, Banda, sampai terus ke arah Merauke. Semuanya sudah terhubung dengan kapal, meski, berangkat tidaknya ya tetap tergantung cuaca.

Demi menghemat biaya, kami berjalan kaki dari pelabuhan ke arah kota, dengan sopan menolak rayuan para bapak ojek. Jauhnya sih ga terlalu ya, menanjak sambil bawa kerir sambil badan masih agak oleng itu yang jadi masalah. Ditambah lagi, kami bela-belain cari penginapan yang murah.

Bukan karena pelit, tapi, semakin hemat, semakin jauh perjalanan yang dapat kami tempuh.

Setelah bertanya di beberapa penginapan, baru pada penginapan ke-4 lah ketemu yang sesuai bujet. Namanya penginapan Senyum Bupolo. Memang tidak di pinggir jalan besar, masuk sedikit. Tetapi, apa artinya jalan sedikit demi bisa menghemat beberapa rupiah untuk makan :).

Seringnya, ujaran ada harga ada kualitas itu bener. Malam itu, sebelum bisa tidur dan mandi, kami berburu kecoak dulu di dalam kamar. Lumayan banyak panen malam itu, sayang…saya ga tau apa bumbu untuk memasak kecoak agar lezat. Baru setelah yakin kamar steril, barulah kami bisa bersantai, tertawa-tawa, sambil menonton saluran TV kabel di dalam kamar. Ya, benar, ada TV kabel di losmen berharga Rp 150 ribu/malam ini. Dan, bagusnya lagi, karena di kapal kami berkenalan dengan seorang pejalan perempuan, syukurlah, biaya penginapan bisa menjadi shared cost.

Pukul 12 malam teng, bangunin si bocah….happy birthday kiddo. Ya, si bocah lebih sering berulang tahun di jalan.

Malam pertama berada di Namlea, ibu kota Pulau Buru, seperti mimpi. Wah…saya ada di pulau Buru :). Norak? Biarlah …

batal ke Danau Rana

Setelah keliling mencari sarapan, kami mulai menyusun rencana. Karena saya tidak ada bucket list harus kemana aja di Namlea, yang penting udah nyampe Buru, itu sudah membuat saya berbahagia, saya ngikut aja ama rencana yang mendadak kami buat. Hari ini akan ke pantai Jikumerasa, lihat air terjun di dekat pantai, lalu esok siang ke Savana Java, menginap di sana. Lusa, menyeberang ke Ambon.

Kami pun check-out, menitipkan carrier-carrier di losmen. Rencana ya tinggal rencana aja. Setelah naek ojek tiba di terminal samping pelabuhan, sembari nungguin bemo ke Jikumerasa datang, kami ngobrol dengan ibu-ibu di terminal. Menyeruaklah nama Danau Rana, yang dianggap sebagai inti Pulau Buru. Danau ini sendiri memang terletak di tengah pulau Buru. Mereka menjelaskan rute, yang terdengar mudah, menuju Danau Rana. Dan, karena terdengar mudah, sesuai saran para teman baru kami, berangkatlah kami ke Desa Namlena, sekitar 4 jam dari kota Namlea. Dari Namlena, kami tinggal menyewa pickup 4×4 untuk berangkat ke Danau Rana. Paling, nanti malam juga sudah sampai di sekitar Danau Rana. Begitu penjelasan yang kami terima. Mudah bukan?

Saya terpesona melihat cantiknya perjalanan dari Namlea ke desa Namlena. Kami melewati pantai Jikumerasa, pantai Bitung, yang wah…..biru jernih banget, lalu air terjun yang tadinya akan kami datangi. Di Namlena, kami menumpang tidur di rumah pak sopir angkot yang kami tumpangi dari Namlea. Lalu, ada kabar, tidak ada supir pickup yang mau berangkat sore ini ke Danau Rana. Cuaca tidak bagus. Tunggu besok. Ya udah, kami berkeliling desa tepi pantai ini, beli lauk untuk makan malam, lalu masak bareng. Sekali lagi, malam itu, ulang tahun si bocah dirayain, kali ini lebih resmi, dengan lilin di atas hidangan kesukaannya, tempe.

selamat ulang tahun 🙂

Keesokan pagi, datang kabar terbaru, jalan menuju Danau Rana tidak bisa diakses. Longsor….

Selamat datang di jalan, saat satu-satunya rencana yang pasti adalah … rencana yang tidak ada dalam rencana 🙂

Karena udah tanggung juga untuk kembali ke Namlea, lebih baek lanjut terus dari Namlena. Begitu pikir kami. Kemana? Nah, kata anak bapak supir, deket-deket situ ada teluk cantik, namanya Teluk Bara. Saya mulai berpikir, jangan-jangan, sewaktu membuat seri Anak-anak Mama Alin, penulis Bubin Lantang terinspirasi dengan Pulau Buru ini untuk nama-nama tokoh di serial tersebut. Dan begitulah, kami menyewa pickup untuk ke Teluk Bara, sekitar 2 jam dari Namlena. 2 jam itu terasa sebentar sekali, dengan begitu cantiknya perjalanan. Sungguh..!!! Setelah setengah perjalanan lebih, supir menghentikan kendaraan di jembatan. Jembatannya sih ya seperti jembatanlah. Ada apa di sini? Ia lalu berujar dengan nada datar, bisa turun ke bawah, maen aer. Dari bak belakang, saya langsung melongokkan kepala, penasaran ada apa di bawah jembatan. Waduh…. sungai yang membentuk beberapa alur, dengan air yang sangat-sangat jernih, terlihat jelas bebatuan kecil di dasarnya. It’s heaven on earth….. Jembatan Wae Duna. Kalaupun saya harus menempuh 3-4 jam dengan tujuan hanya untuk ke jembatan ini, saya mau kok.

jembatan Wae Duna

Kurang dari setengah jam kemudian, tibalah kami di Teluk Bara. Tidak ada ombak sama sekali. Di tepi laut, gampang sekali melihat dan memanggil ikan-ikan kecil. Iya, memanggil, dengan cara: tinggal lempar remahan makanan, ikan-ikan itu langsung berkumpul. Sekilas, air laut di sini berwarna hijau toska. Teluk dengan air hijau toska. Teluk ini cukup ramai, menjadi tempat transit kampung-kampung yang berada di sekitar Teluk Bara. Dibanding naik kendaraan dari kampung-kampung mereka jika ingin ke Namlea, naik sampan dari kampung sekitar lebih cepat untuk tiba ke Teluk Bara, lalu dilanjutkan ke Namlea dengan kendaraan. Di hari libur, cukup ramai juga wisatawan lokal yang datang ke sini. Di pinggir teluk, disediakan beberapa tempat duduk yang dicat dengan warna-warna cerah. Penginapan tidak ada di sekitar sini. Warung makan hanya 2, dengan menu dasar, mi goreng :).

Temen jalan kami sejak di kapal Sangiang, menanyakan, tertarik ga ke kampung Nanali, sekitar 3 jam dengan kapal. Wah…. sangat menarik ini. Rupanya, temen kami itu berkenalan dengan Madin, salah seorang ABK kapal ikan yang sedang berlabuh di Teluk Bara. Kapal ikan itu sedang menurunkan ikan untuk dibawa ke Ambon, sekaligus menaikkan balok-balok es untuk dibawa kembali ke kampung Nanali, untuk mendinginkan ikan-ikan yang akan dibeli dari para nelayan. Madin ini ABK yang berasal dari kampung Nanali, bertugas mengurusi keuangan kapal. Tambahnya lagi, tidak perlu membayar kapal. Tawaran semenarik itu, tentu saya tidak bisa menolak.

Teluk Bara

Kapal ini di kampung Nanali bekerja mengumpulkan ikan dari para nelayan, dan dalam satu hari saja, minimal 1 ton ikan pasti memenuhi kapal. Setelah beberapa hari, kapal lalu membawa semua ikan ke Teluk Bara, dan ikan-ikan yang sudah dimasukkan ke dalam wadah-wadah berisi es lalu dipindahkan ke truk yang sudah menunggu, dan truk langsung berangkat ke Namlea, kemudian menyeberang dengan feri ke Ambon. Kapal lalu kembali lagi ke Nanali. Di pelabuhan Ambon, truk sudah ditunggu oleh para saudagar ikan, yang kemudian akan menjual kembali ikan itu ke restoran, atau mengirim ke Surabaya.

Tak berapa lama, setelah insiden truk hampir nyemplung ke laut, lalu semua balok es sudah dimasukkan ke dalam kapal, berlayarlah kami. Dari Teluk Bara, kapal mampir dulu ke kampung di seberang Teluk Bara, kampung Waeruba, lalu langsung berlayar menuju Nanali. Kapal ini lengkap, ada kamar mandi tertutup, ada dapur lengkap dengan kompor dan perangkatnya, ada tempat cuci piring … yang tidak ada cuma kamu… ai ai ai…

Nanali

Kalo diliat dari laut, Nanali ini serupa dengan kampung-kampung bajak laut yang ada di benak saya. Dalam hati saya langsung berujar, bakal betah nih. Nanali merupakan salah satu titik awal pendakian ke Gunung Kapala Madan, gunung tertinggi di Pulau Buru. Tepat di depan Nanali, ada Pulau Tumahu yang berbentuk seperti kura-kura, dan di sebelah kiri Tumahu, Pulau Pasir Putih.

nelayan langsung merapat

Lepas magrib kami tiba di dermaga Nanali, dan, dalam sekejap saja, kapal ini langsung dihampiri oleh perahu-perahu nelayan yang akan menjual hasil tangkapan mereka. Ikan-ikan besar yang ditangkap nelayan adalah ikan Tuna. Ada yang seberat 60 kg, 75 kg,….. dan harga belinya, 1 kg tuna Rp 10.000. Sekali turun ke laut, sebagian nelayan bisa menghabiskan waktu sampai 2 hari, dan untuk ikan besar, mereka menggunakan penangkapan dengan menggunakan sistem layang-layang.

Beberapa hari kami lewatkan di kampung yang teduh ini. Iya, bener-bener teduh, tidak panas menyengat seperti lazimnya kampung pesisir. Barangkali karena berada di kaki Gunung Kapalamadan, Teman-teman boleh percaya boleh tidak, gunung yang satu ini penuh dengan cerita mistis. Beberapa hari di Nanali, tak pernah lepas penduduk menceritakan mengenai Kapalamadan dengan berbagai kisahnya.

Satu yang membuat saya terperangah, perempuan berumur 50 tahun di sini masih melahirkan. Sudah lazim, anak tertua sudah memiiki anak, si ibu masih melahirkan, dan, anak terkecil seusia dengan cucu … seperti mamak tempat saya menginap, anak mamak berjumlah 10 orang. Banyak anak adalah rejeki berlaku di sini.

Selama di Nanali, selain menghabiskan waktu beranjangsana dengan para penduduk, memuaskan diri dengan berbagai makanan khas pepulauan, seperti apa ya nama lokalnya … keong yang direbus, sambal yang begitu sedap, kami sempatkan berkeliling bersama Mahdi. Dengan sampan yang dikayuhnya, kami berlayar kurang dari 15 menit ke pantai Air Jin, di tepi pantai ini ada sumber mata air yang mengalir dari dalam bukit dan keluar melalui bebatuan ke pantai. Konon, air ini berasal dari Danau Rana, dan emang, dinggiiin banget…. lalu, dari pinggir pantai, melewati jalan datar sekitar setengah jam, ditambah jalan tanjakan, banget, hampir satu jam, dengan kontur bebatuan dan tanah, tibalah kami di gua Air Racun. Saya jarang masuk gua, jadi wajar aja kalo saya terkagum-kagum ngeliat dalamnya Air Racun ini. Bebatuan kristal, stalagtit, stalagmit, lubang di atap gua yang memasukkan garis-garis sinar matahari. Tambahan info, penunggu gua ini adalah seorang perempuan. Dari pantai Air Jin, kami kembali berlayar selama beberapa menit ke bebukitan di pulau Tumahu, yang berada tepat di depan Nanali. Pemandangan dari atas begitu mencekam indahnya 🙂

Masih ingin lama sebenarnya kami berada di Nanali, tetapi, waktu selalu berjalan tegas dan mau tidak mau kami harus kembali.

kampung Nanali

Saat kembali di Teluk Bara ini, kami terdampar beberapa jam, dari pagi sampe siang, sebelum akhirnya menemukan sebuah pickup yang mengantar 2 orang peziarah. Ah tentang peziarah, di Teluk Bara ini ada kuburan yang kerap didatangi orang untuk sembahyang, disebut Karamat. Nah, 2 orang ini menyewa pickup dari Namlea untuk berziarah ke Karamat di Teluk Bara. Berbahagialah kami, mereka mau menampung kami di bak pickup untuk ke Namlea…. Berkah bagimu, para peziarah.

Savanajaya

Dengan bantuan seorang kenalan baru, kami dapat menyewa angkutan umum untuk mengantar kami ke Savanajaya dari Namlea, dengan harga yang sangat sesuai kantong. Makanya, bertemanlah … Desa ini terletak di kecamatan Waeapo, tak jauh dari Namlea, dan merupakan salah satu unit pemukiman tahanan politik tertua di Pulau Buru. Tak banyak yang tersisa dari kisah masa lalu secara visual, hanya beberapa bangunan, dan mulut-mulut yang terkatup rapat. Tanah ini telah bertransformasi menjadi lumbung padi, dibangun dengan keringat mereka yang tertindas.

Savanajaya yang subur

untuk melihat lebih banyak gambar di Pulau Buru, silakan masuk ke sini.

(Visited 45 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: