Kota dengan kulit berlumuran pelangi

Wah….long weekend, lagi…

Saya sangat senang kalo ada long weekend setiap bulan, dan saya selalu kelabakan nyari dan ngumpulin duit untuk jalan pas long weekend. Jadi, kebayang aja gimana dilema antara senang dan kelabakan.

Kali ini, selaen karena duit yang super terbatas, dan juga emang belon pernah keliling daerah itu, tujuan kami deket-deket aja, ke Banyuwangi. Emang deket sih, kan kami tinggal di Bali, jadi, pake motor sekitar 3 jam dari kota Denpasar sampe kota Negara, kota terakhir sebelon pelabuhan Gilimanuk. Itu perjalanan santai ya, ga da ngebut-ngebutnya.

dini hari di belakang rumah

Di Negara, numpang tidur di rumah temen. Si ibu ini salah satu temen saya yang keren. Pelukis, ibu rumah tangga, pengajar anak-anak di SLB, dengan sikap polos yang ga tanggung-tanggung, cenderung membahayakan diri malah. Ya begitulah…

Dari kota Negara sampai pelabuhan Gilimanuk kurang dari sejam, dengan lalulintas padat, jalur luar kota, penuh dengan bis dan truk. Nyebrang dari pelabuhan Gilimanuk ke pelabuhan Ketapang cuman sebentar banget, sekitar setengah jam. Meski cuma sebentar, di selat ini cukup banyak terjadi kecelakaan kapal, dari terseret arus sampai senggol antar kapal.

Setelah berunding dengan si bocah, akhirnya kami sepakat untuk langsung ke Taman Nasional Baluran, sekitar 2 jam dari pelabuhan Ketapang. Ternyata, jalur Ketapang-Baluran ngelewatin Bunder atau Bangsring Underwater. Nah, mumpung masih pagi, dan takutnya besok ada acara mendadak laen, ya udah..kami sekalian mampir ke Bunder dulu.

Bangsring Underwater

Bunder ini terletak di Desa Bangsring, Banyuwangi, sekitar 20-an Km atau 1 jam dari pelabuhan Ketapang, arah Situbondo. Ntar, di kanan jalan ada plang Bunder besar. Tinggal belok kanan deh, ikutan jalan sampe mentok, parkir, sampe deh. Bunder ini inisiatif masyarakat dan pemerintah untuk menjaga dan meningkatkan kualitas perairan dan terumbu karang di daerah Bangsring. Cukup luas juga cakupannya, sekitar 15 hektar.

Dari pantai Bangsring, ada kapal kecil untuk mengantar kita ke rumah apung, sekitar 5 menit, untuk melihat kolam keramba berisi hiu jinak, kerapu, lobster, ikan hias. Bisa juga diving dan snorkeling di sekitar rumah apung. Untuk yang tidak bawa alat, bisa kok nyewa di Bunder. Selain itu, bisa juga ngasih makan ikan di sekitar Bunder, tenang….dijual roti di rumah apung.

Kalo pengen jelajah pulau, dari Bunder ini bisa nyewa kapal untuk ke pulau Tabuhan dan Menjangan. Kalo mo murah, cari barengan aja.

    

Ah…wisata di Bunder sungguh menyenangkan. Sederhana, lengkap, ramah.

Sekarang, kembali ke jalur awal, ke Taman Nasional Baluran.

Taman Nasional Baluran

Dari Bunder ke taman nasional Baluran udah deket, sekitar 45 menit. Jalan masuk Baluran berada di tengah padatnya kampung penduduk pinggir jalan. Jadi, jangan ngebayangin jalan masuknya sepi dan jauh dari mana-mana ya. Seru juga, ga da tampang hutan. Tapi, mulai dari pos registrasi sampai seterusnya, bayangan kampung penduduk yang saya rasakan tadi di jalan masuk, mendadak hilang lenyap. Berganti dengan suasana senyap, udara segar, jalan bergelombang.

Taman Nasional Baluran terletak setengah bagian di Situbondo, setengah lagi di Banyuwangi, dengan luas sekitar 25.000 Ha. Dari arah pelabuhan Ketapang, Taman Nasional Baluran ada di sebelah kanan jalan. Julukan taman nasional ini ‘Little Africa van Java’.

     

Untuk orang yang lebih mengandalkan indera penciuman dibanding indera lainnya, saya merasa seperti disambut hangat di tempat ini….saat pertama kali memasuki jalan setapak di tengah hutan, aromanya begitu hangat dan manis. Lama sekali tidak mencium aroma hutan yang sesungguhnya. Dan saya suka sekali dengan jalan tanah yang tidak di-paving ato diaspal. Masa di hutan ngelewatin jalan aspal. Jangan diaspal ya ya ya ya….

Dari loket masuk, lama tempuh ke padang savana Bekol sekitar setengah jam lebih, atau 12 km. Kok lama? Kan jalannya bergelombang dan berlubang. Kalo ga sayang kendaraan, 15 menit juga paling nyampe. Karena saya suka hutan, saya sangat sangat menikmati perjalanan ke Bekol ini. Aromanya wangi, khas hutan. Dengan bebunyian khas hutan. Sempat beberapa kali juga ketemu ayam hutan yang lagi ngelintas atau nongkrong di pinggir jalan. Ditambah lagi dengan variasi hutan yang saya lewati sepanjang jalur ke Bekol ini. Berganti-gantian, saya ngelewatin hutan musim, dengan pepohonan tumbuh subur saat musim hujan, dan hutan evergreen, apapun musimnya, pepohonan akan selalu hijau, ditopang oleh sungai bawah tanah. Pas masuk daerah hutan evergreen, imaji saya udah kemana-mana aja. Seakan berubah menjadi peri yang pulang ke rumah. Belon lagi ditambah ama kupu-kupu yang terbang ke sana-sini di pinggir jalan. Duh….i’m home.

Di Bekol, ada tempat menginap dan restoran kecil, yang dikelola oleh taman nasional sendiri. Paling asik di Bekol pas sore, bisa ngeliatin banteng, kerbau yang sedang berkumpul cari makan di savana. Tetapi, di siang hari juga banyak banget monyet dan rusa yang berteduh dalam kelompok-kelompok di bawah naungan pohon.

Dari Bekol ke Pantai Bama, sekitar 15 menit, ato 3 km. Air di Pantai Bama tenang, terlindung dari ombak besar, sehingga aman dan nyaman untuk berenang-renang, berleha-leha di pantai, dan bergandengan tangan menyusuri pantai. Di Bama juga ada semacam homestay dan restoran kecil. Yang perlu diwaspadai seandainya ada niat kemping di pantai, hanya monyet-monyet yang berkeliaran mengincar apa pun yang bisa diraih.

Karena jarak antara kota Banyuwangi dan Baluran yang sebenarnya ga terlalu jauh, siapa tau pengen nginep di kota, homestay dengan harga sangat terjangkau mulai tumbuh subur di kota Banyuwangi. Untuk para backpacker, ada beberapa rumah singgah di Banyuwangi yang bisa dijadikan pilihan. Tinggal pilih aja sesuai selera dan kantong.

Untuk akomodasi dan informasi lainnya tentang Taman Nasional Baluran, dapat dilihat di web Taman Nasional Baluran: http://balurannationalpark.web.id

Selanjutnya kemana? Pulau Merah…..

Pulau Merah

Pulau Merah salah satu spot wisata andalan Banyuwangi, selain begitu banyak spot-spot menarik lainnya. Terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Dari kota Banyuwangi, keadaan normal sekitar 3 jam dengan kendaraan roda dua. Karena tidak dalam keadaan normal, perjalanan kami tempuh sekitar 4 jam. Dari kota sampai menjelang Pulau Merah, diguyur hujan deraaaasss, lalu, sekitar 45 menit sebelum tiba, jalan aspal berganti dengan banjir setinggi mata kaki. Nah…bukan keadaan normal kan :).

Ada cukup banyak homestay standar di Pulau Merah, dengan harga yang seragam. Jujur aja, sedikit mahal dilihat dari fasilitas yang ditawarkan. Saran saya, ga perlu keliling cari homestay yang lebih murah, kami udah ngelakuin duluan hahaha. Saya sempet mikir, bakal ngeliat satu pulau yang berwarna merah menyala, asal dari sebutan pulau merah. Dan tidak ada pulau itu. Di depan pantai pantai pulau merah adanya pulau kecil yang bisa didatangi saat air laut surut, nah…tanah di pulau itu berwarna merah, dan dari sinilah asal dari nama pulau merah. Bukan dari sebuah pulau yang berwarna merah menyala seperti dalam imaji saya.

Pasir putih yang cukup lebar sangat nyaman untuk anak-anak berlari-lari, bermain sepeda pantai yang disewakan, bermain bola, ada juga spot yang sengaja dibuat untuk para sel dan we-fie mania. Kalau untuk berenang, agak berbahaya ya, apalagi untuk anak-anak, karena ombak yang cukup besar, lebih cocok untuk para surfer, yang memang banyak dijumpai di sini.

Setiap ke pantai, saya selalu tidak sabar menyantap hidangan seafood yang seharusnya banyak dan murah. Kan di pantai. Seafood kan asalnya dari pantai. Itu analogi saya. Dan seperti kata orang, orang tidak sabar akan dijauhi rejeki. Begitulah…seafood adanya di restoran mahal, jauh dari pantai. Di pantai lebih banyak yang jual nasi campur dan sejenisnya. Meski di pantai, ikan tetap saja mahal.

      

Pohon Pinus Senggon

Antara kota Banyuwangi dengan pulau merah, bisa menghampiri hutan pohon pinus Senggon dengan luas sekitar 7 hektar untuk wisata, di Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon. Dari kota Banyuwangi, sekitar 30-an km, belok kiri di jalan utama Rogojampi ke arah Songgon. Ikuti jalan lurus, sekitar 30 menit tibalah di hutan pinus yang sejuk dan teduh ini. Rajin-rajin bertanya ya, karena petunjuk jalan tempat ini kurang terlihat jelas di beberapa persimpangan. Kalau mau santai, bisa bawa tikar atau alas untuk lesehan atau leyeh-leyeh di hutan pinus, untuk makan jangan khawatir, warung makan banyak dijumpai di pinggir hutan pinus.

Cukup banyak kegiatan yang bisa dilakukan di tempat wisata yang berada di kaki Gunung Raung ini. Seperti turun ke sawah dan berjalan menyusuri sungai Badeng, rafting dan tubbing, naik kuda, dan yang sudah pasti, berselfie dan wefie, karena wah…banyak spot cantik yang memang dirancang untuk kebutuhan para selfie dan wefi-er, dari rumah pohon, lampion penuh warna, bingkai kayu, pre-wedding scene, hammock, ayunan, belum lagi spot natural yang ada. Oya….untuk yang pengen lebih lama di daerah hutan pinus ini, bisa juga nginep di homestay milik penduduk setempat. Bisa ditanyakan di bagian informasi yang ada di area hutan pinus Songgon.

Ini baru segelintir aja ya tempat yang asik di Banyuwangi dan sekitarnya. Masih banyak lagi yang dapat dikunjungi dari air terjun, pantai, sungai, goa, kawah belerang, penangkaran penyu. Bener deh…Banyuwangi ga ada matinye 🙂

Untuk melihat foto-foto lainnya di Banyuwangi, masuk ke halaman ini.

Dan, dimanapun kita berada, jangan buang sampah sembarangan dan hormati budaya setempat. keep walking, dudes….

(Visited 92 times, 1 visits today)

2 Replies to “Kota dengan kulit berlumuran pelangi”

  1. Seneng gaya ceritamu aja, Shir.. kan lucu, hehehe

    1. terima kasih, hib 🙂

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: