lahirnya media

Saat membaca, mendengar, melihat, menyentuh suatu media, terlihat seperti sebuah/setumpuk benda mati yang menjadi berharga karena mengandung info. Apapun itu. Yang bila terkena hujan, robek, lecet, lecek, tercoret, hanya mengundang sedikit, kalaupun ada, perhatian. Ah, biarin aja, kan masih ada lagi. Ah, ntar cari lagi. Ya sudah, biarin saja.

Mari mengilas balik perjalanan yang ada di balik adanya satu media di dekat kita.

Satu tema. Lalu berbagai ide, saran, diskusi, debat, berkumpul dan bergulat di seputar tema itu sampai akhirnya muncul satu bongkah kepastian. Tema dan bongkahan itu pun disatukan dalam kumpulan kata dan gambar yang, nantinya, mengantar kembali pembaca atau pendengar kepada tema dan bongkahan tersebut. Seiring dengan proses pencarian dan pengaduk-adukkan kata, pencarian dan penyusunan gambar dilakukan dalam bentuk layout yang, nantinya, akan seia sekata bersama si kumpulan kata. Keduanya lalu, untuk sementara, berjalan sendiri-sendiri dalam tapak yang berdampingan, menuju satu tujuan yang berisi tema, bongkahan ide, kata-kata, layout.

Tak butuh lama, karena lama berarti lupa, lama juga bisa berarti tidak penting, kata dan gambar tiba di tujuan mereka. mereka pun bersatu, berkenalan. Setelah selama ini hanya memandang sisi masingmasing, mendengar cerita tentang masingmasing, takdir menyatukan mereka. Langsung merasa sepaham, sehati? Tidak juga. Hubungan membutuhkan penyesuaian, bukan. Sudah serasikah, sudah sesuaikah. Ada garis yang melenceng, ada warna yang kurang tepat, ada gambar yang kurang sesuai, ada kata yang berlebihan, ada huruf yang tidak pada tempatnya, dan bla bla bla. Maap, tidak ada tempat untuk penyelewengan di sini.

 

Fuh….

Dan inilah….setelah perjalanan di atas, terjadilah ‘ia.’ Tema, ide, gambar, kata. Masih berupa ‘ia’ yang ada di dalam cangkang. Belum mengenal dunia luar. ‘ia’ pun digendong keluar, dikenalkan kepada merekamereka yang berhubungan dengan adanya ‘ia’ saat ‘ia’ belum ada.

Lalu berbagai ide, saran, diskusi, debat, berkumpul dan bergulat di seputar ‘ia’ sampai akhirnya muncul satu bongkah kepastian.

Ya, ya, ya, akan kami lakukan. Terima kasih konfirmasinya. Kalau ‘begitu,’ nanti ‘begini.’ Apa tidak lebih baik kalau seperti ini. Ini terlalu begitu. Bagaimana kalau begini. Sepertinya terlalu ini. Jangan seperti itu. Sepertinya janggal, dan bla bla bla.

Abrakadabra….(tidak terlalu tepat sebenarnya, tetapi saya belum menemukan istilah yang lebih sesuai)…..jadilah ‘ia’ yang semakin indah. Ia cantik dan gelagapan mencari jubah.

Beberapa saat sebelum pertemuan kata dan gambar, terjadi proses alot…..selalu alot….tarik ulur, untuk membuat jubah indah yang pantas dikenakan oleh si kata dan gambar.

Bagaimana kalau sejumlah sekian. Berapa potongan yang didapat. Apa tidak terlalu mahal. Kalau menggunakan bahan yang ini bagaimana.  Coba di tempat lain. Dan bla bla bla.

Ya ya ya…ada negosiasi, diplomasi

Dapat sebuah jubah yang cantik untuk si ‘ia’!!!!!!!!

Berangkatlah ‘ia’ menuju saatsaat terakhirnya menjelang sosok yang mandiri.  Gerbang pelepasan.

Ternyata, masih belum saat untuk menikmati pantai dan matahari terbenam. Satu gelisah berkelebat disusul gelisah yang lain. Akan rapikah seluruh jubah itu? Tidak ada benang terlepas? Kata yang hilang? Patuhkah si pembuat jubah dengan janji yang sudah tertatah? Nyamankah ‘ia’ bersama jubah baru?

Dum…dum…dum…..’ia’ keluar dari gedung mengenakan jubah baru yang akan terus melekat bersamanya sampai satu waktu nanti, ketika ‘ia’ sudah bertambah besar dan harus mengganti jubah yang sesuai.

Saat ini, ‘ia’ tidak lagi ‘ia’. ‘ia’ telah menjadi media.

Yang bila terkena hujan, robek, lecet, lecek, tercoret, muncullah sedikit, kalaupun banyak, perhatian. Dijaga dong. Dirawat dong. Disimpan yang benar dong. Jangan disepelekan dong.

Dan kami…..pergi ke pantai, menikmati matahari terbenam.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: