manado yang ramah

Perjalanan kali ini bakal agak lama dibanding sebelumnya, sekitar 2 bulan, karena harus banyak menghabiskan waktu di kapal untuk pindah-pindah antar lokasi. Akhirnya, kami putuskan untuk pake pesawat ke Manado, dan setelah itu baru mulai pake kapal. Pertimbangan kami, meski jauh lebih murah, butuh waktu sekitar seminggu lebih dari Bali ke Ternate, tujuan awal kami, itupun harus menyesuaikan dengan jadwal PELNI yang masih beberapa minggu lagi. Sedangkan, waktu jalan kami terbatas, tidak bisa lebih dari 2 bulan, kecuali mau pulang sebagai pengangguran dan sebagai anak yang tidak sekolah. Bukan keputusan yang cerdas, bukan. Dibanding waktu jalan menjadi lebih sedikit, lebih baik menguras tabungan tetapi waktu jalan tidak berubah, meski risikonya pulang dari jalan harus menghemat habis-habisan. Dan memang itu yang terjadi. Literally.

off we go

Dari Bali, kami langsung ke Manado, terbang seperti burung. Karena sama sekali belon pernah menginjak Manado, kami sempatkan beberapa hari untuk berputar-putar di kota ini, sebelon berlayar ke Ternate. Bagusnya, kapal reguler dari Manado ke Ternate ada setiap hari. Jadi kami bisa santai-santai dikit. Di Manado, kami menginap, menumpang tepatnya, di Rumah Singgah Manado – RSM (supaya ga nulis kepanjangan, capeee), tak jauh dari pusat kota, hanya sekitar setengah jam dengan angkot. Pertama mendengar RSM, dari mana lagi kalo bukan FaceBook. See… social media gives a lot information there, tinggal gimana kita filternya aja. Saat itu, RSM masih gratis, sekarang udah bebayar, tapi masih logis kok untuk ukuran backpacker. Karena kamar yang ada penuh, sebelonnya mereka sudah memberitahu, kami tidur dengan sleeping bag di ruang kantor bagian samping. Selaen RSM, tempat ini juga menjadi markas salah satu LSM berbasis laut. Ah, ga masalah sih … yang penting, ada tempat bernaung, atap supaya ga keujanan, tembok supaya ga kedinginan. Selaen akomodasi, RSM juga menyediakan layanan antar. Kalo ada temen seperjalanan, bisa sharing cost untuk keliling Manado, naek gunung, atau mengikuti program-program RSM.

Rumah Singgah Manado

Tangkoko

mengamati tarsius

Keesokannya, kami dengan beberapa penginap di RSM sepakat untuk sharing cost ke Taman Wisata Alam Tangkoko, seluas 8,7 hektar, terletak di daerah Bitung. Ga terlalu jauh sih dari kota Manado, sekitar 1,5 jam. Di sini tempat salah satu habitat asli Tarsius, si kecil bermata gede, spesies primata nokturnal yang hidup di kawasan Asia Tenggara. Dan, sekalipun kami belon pernah ngeliat Tarsius di habitatnya. Masuk ke Tangkoko harus make guide, wajar sih, mereka yang tau dan hapal lokasi sarang-sarang Tarsius.

Dari Tangkoko, kami bermaen air di pantai Batu Angus, tak jauh dari Tangkoko, sebenarnya masih termasuk di dalam kawasan cagar alam Tangkoko. Dari parkiran kendaraan, berjalan kaki sekitar setengah jam untuk tiba di pantai Batu Angus. Pantai yang landai, tenang, berpasir butiran kerikil hitam. Tempat snorkeling di pantai ini semacam kolam, dikelilingi berbagai bebatuan besar, dengan ragam ikan hias yang cantik-cantik. Itu kata yang pada snorkeling sih, saya ga ikutan. Sewaktu di tempat parkir, kami bertemu dengan ketua Jagawana area Batu Angus. Ia kebetulan akan ke pantai juga. Melihat ia membawa bungkusan besar, saya tertarik bertanya. Ternyata, semalam sebelumnya seorang penduduk menyerahkan kepadanya, tarsius yang ditangkap oleh penduduk karena jatuh dari pohon. Si bapak akan ke Batu Angus untuk mengembalikan tarsius tersebut ke habitat aslinya. Ia mengendarai motor trail. Sungguh beruntung, berkesempatan melihat secara langsung tarsius dilepasliarkan. Saya tentu tidak membuang kesempatan, bertanya kepada bapak, boleh saya bareng, alias menumpang motor si bapak. Ketimbang harus berjalan, meski beramai-ramai bersama si bocah juga, tentu saya lebih memih naek motor dan menghemat air di dalam tubuh saya yang kalo berjalan akan keluar sebagai keringat.

jari mini si tarsius

Begitulah, kami jelas tiba lebih dulu di pondok tempat bapak menaro motornya, menunggu mereka yang sedang berjalan, lalu bersama-sama menapaki jalan setapak, mencari pohon yang sesuai sebagai tempat lepas liar si tarsius. Di salah satu pohon dengan batang berlubang, si bapak membuka tutup botol tempat tarsius, lalu mendekatkan mulut botol ke lubang tersebut. Dengan segera, si tarsius meloncat ke lubang, dengan agak ragu, lalu sigap memanjati tempat yang lebih tinggi, lalu hilang. Si bapak menjelaskan, nanti si tarsius akan kembai ke lubang itu, dan membangun keluarga di sana. It’s relieving you know, to have direct experience such that.

Tomohon

Karena tidak terikat dengan jadwal kapal, kami mulai cek-cek internet untuk tempat yang akan kami kunjungi selanjutnya, dan salah satu hasil adalah kota Tomohon, yang ‘katanya’ kota bunga. Sekitar 1,5 jam dengan bus umum dari Manado ke Tomohon. Dengan penasaran saya celingukan dari jendela bis sewaktu menuju Tomohon, berharap melihat jejeran bunga di sepanjang jalan, bunga di tembok-tembok dinding dan rumah. Saya terlalu berharap.

Selaen berudara dingin, sejuk, dan ‘kota bunga’, Tomohon memiliki cerita terkenal mengenai pasar ekstrim. How extreme is it? Karena sebelonnya udah baca tentang pasar ini, saya memutuskan sebaiknya tidak masuk ke dalamnya, hanya mengantar bocah sampai luar pintu pasar saja. Dan ini sudah kami sepakati. Setelah berjalan kaki dari terminal Tomohon dan tiba di depan pasar ekstrim, dengan rengekan yang menyebalkan dan raut muka ga jelas, si bocah memohon saya untuk menemaninya ke dalam pasar. Karena drama adalah suatu yang sebisa mungkin saya hindari saat berjalan, saya pun masuk menemaninya, dengan mata sebelah tertutup, dan sebelah lagi segera mungkin menutup saat melihat suatu yang untuk ukuran saya memang ekstrim.

Pasar ekstrim tak berbeda dengan pasar biasa. Bersih, di dalamnya terdapat los-los, dan untuk setiap beberapa los yang berdekatan disediakan satu selang api untuk membakar kulit binatang sehingga mudah dikuliti. Pasar ini khusus menjual berbagai daging yang sebagian mungkin terdengar agak tidak lazim. Sebaiknya, jangan terbawa perasaan, dan ga perlu lah menilai segala macam mengenai pasar ini, apalagi dari sudut pandang sendiri.

It’s a culture. Don’t bring yours to try to understand others. Just give some respect and space, and we’re all going to be fine.

Danau Poso

tambak ikan – Danau Poso

Berbeda dengan Tomohon yang mudah diakses dengan transportasi umum, saya agak kesulitan mencapai danau ini dengan kendaraan umum. Harus beberapa kali ganti, ditambah dengan jasa abang ojek. Tiba di Danau Poso disambut dengan hujan lebat, dan kami bernaung di salah satu tambak ikan. Ketimbang mencari ojek untuk mengelilingi danau, setelah hujan reda, kami langsung kembali ke jalan besar, mampir ke salah satu warung, untuk menunggu angkutan umum kembali ke kota Manado. Ada satu panganan menarik yang saya cicipi di sekitar Danau Poso, dan kayaknya hampir di setiap warung-warung makan di situ ada kok. Sate kerang sawah. Bumbunya enak banget…….

Hari selanjutnya kami mengelilingi kota Manado, mencoba segala kuliner yang wah… sedap. Entah karena suasana baru, entah karena memang street food di sini mengguncang selera, apalagi sambalnya. Begitu pedas, begitu pas. Di luar perjalanan ini, sempat beberapa kali berada di Manado, dalam waktu tak pernah lebih dari 3 hari. Saya hanya berkeliling kota, lebih banyak berada di pusat kota, berjalan kaki, mengobrol dengan para pedagang. Sempat juga mampir ke Tomohon lagi, kali ini dengan berkendara motor, mengunjungi keluarga seorang teman. Bagi saya ini kunjungan spesial, karena pulang dari sana, saya dibekali sebotol Cap Tikus, homemade. Sangat saya jaga pemberian itu, dan baru 1 bulan setelah pulang ke rumah botol tersebut akhirnya kosong. Rasanya?

Ga perlu dibahas, sangat melayang ☺.


Kumpulan foto untuk manado dapat dilihat di laman berikut ini.

Video pelepasliaran Tarsius

(Visited 45 times, 1 visits today)

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: