matahari tidak terbenam, hanya bersembunyi di balik gamalama

Saya bersyukur, dapat mengunjungi 2 tempat bernama sama, dengan jarak satu sama lain sekitar 2800 km. Beberapa saat lalu, saya dan si bocah berkesempatan mampir ke pulau Ternate yang terletak di Alor, kabupaten Nusa Tenggara Timur. Kali ini, kami ke pulau Ternate juga, tetapi yang terletak di Maluku Utara, dengan luas yang jauh lebih besar dibanding si Ternate imut-imut di Alor.

Untuk menghemat waktu, karena kali ini jelas akan memakan lebih banyak waktu di perjalanan dan saya tidak terlalu suka dikejar-kejar oleh waktu, saya putuskan untuk naik pesawat langsung aja dari Bali ke Manado, lalu melanjutkan dengan kapal ke Ternate. Biarlah bujet jadi membengkak, tapi saya bisa menghemat sekitar seminggu, dibanding naik PELNI dari Bali ke Ternate, yang memakan waktu sekitar 5 hari.

Dari Manado ke Ternate dari pukul 5.30 sore sampai 12.30 siang keesokan harinya. Berangkat dari pelabuhan Manado, yang berada di tengah kota, dengan lama pelayaran sekitar 19 jam …. seperti biasa, ada makan malam, sarapan, dan makan siang … gratislah. Ah…saya suka sekali naik kapal. Ditambah lagi…karena saya penggemar segala sesuatu yang gratisan, tentu saya senang sekali setelah tau bahwa penumpang di atas 10 tahun aja yang perlu bayar, dan ini berarti, si bocah ga perlu bayar tiket kapal, kan baru 10 tahun. Asalkan….tidur satu kasur ama saya. Oya, tempat duduk di kapal ini model bunk bed, langsung tempat tidur. Dan tahukah Anda, tidak banyak penumpang yang ada di kapal saat itu, dan…ranjang di sebelah kosong. Ini benar-benar kemewahan. Saya ga perlu harus berdesak-desakan satu tempat tidur dengan si bocah. Selama 19 jam pelayaran, tidak bosan-bosannya saya mensyukuri karunia ini.

Sebelon berlabuh di Ternate, kapal berlayar dulu di Jailolo pukul 9 pagi. Udah masuk daerah sini, laut di pelabuhannya jerniiihhh banget.

Kembali ke jaman kuliah dulu

Seorang kakak kelas saya berasal dari Ternate. Dalam bayangan saya saat itu, Ternate begitu jauh, tapi saya sempat berujar, kalo saya ke Ternate, numpang nginep ya. Ia pun mengundang saya, maen ke Ternate. Dan tibalah saya kali ini di Ternate, memenuhi percakapan yang terjadi belasan tahun lalu. Ya, saya memang setua itu. Siapa nyana, keluarga temen saya, yang sampe sekarang masih betah tinggal di Yogya itu, rame-rame menjemput saya di pelabuhan. Terharu. Baik sekali ya…. Udah gitu, setelah memasukkan kerir ke dalam kamar (ya, kami diberi satu kamar sendiri), kami disuruh istirahat lalu ditutup dengan kata-kata, ‘Pakai saja motor, untuk keliling kota selama di sini’.

Ternate kota pulau kecil yang semarak. Laut berada di depan, gunung berada di belakang. Di sini, matahari tidak terbenam, tetapi bersembunyi di balik tubuh Gamalama.

Secara keseluruhan, saya berada di Ternate sekitar seminggu. Diselingi dengan ke Morotai lalu Jailolo, lanjut Tidore, dan kembali lagi ke Ternate, untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan ke pulau Buru, Maluku. Bisa dibilang, pulau ini menjadi basecamp saat kami mengelilingi Maluku Utara.

Setelah istirahat secukupnya, kami langsung keliling kota. Ihhh…kota Ternate imut banget, kecil dan sangat lengkap. Semua, dari mall, pasar, pertokoan, tempat beribadah, keraton, kayaknya numplek di satu tempat. Dan, udah ada jalan hotmix yang mengelilingi pulau ini. Benar-benar mengelilingi. Hari terakhir kami di Ternate, kami mencoba mengelilingi kota ini, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, 42 km, perjalanan santai dengan motor. Bisa ngeliat gunung Gamalama tampak depan, samping hehehehehe…. Jangan pernah takut nyasar kalo lagi keliling pulau Ternate, pada prinsipnya, jalan di kota ini cuma satu lingkaran aja. Ingat itu baek-baek.

Pantai Sulamadaha

Dari kota Ternate ke pantai Sulamadaha deket banget, paling cuman sekitar 30 menit pake motor. Pantai ini satu jalur dengan berbagai objek wisata lainnya, seperti benteng Toloko, danau Tolire, Batu Angus. Bisa sekali tempuh dalam sehari. Karena dasarnya saya termasuk slow traveller, satu hari cuma saya manfaatin untuk ke pantai aja, hanya mampir ke pelabuhan Dufa-dufa, untuk membeli Gohu Ikan. Ini nanti ceritanya ya, di bagian kuliner :). Setelah masuk ke pantai Sulamadaha, kami istirahat, mesen kopi. Ombak cukup besar, sepertinya ga terlalu aman untuk cebur-cebur beibeh…. Jadi, cuma itu ceritanya? Ooo tidak. Yang kami cari, pantai yang semacam teluk, debur ombak beriak tenang. Setelah tiba di pantai Sulamadaha, ikuti jalan kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau dengan berjalan kaki, sampai tiba di parkiran. Lewati jalan menurun….dan..tibalah kami di hol Sulamadaha yang begitu menakjubkan. Di foto-foto yang tersebar di dunia maya saat men-searching pantai Sulamadaha, pantai ini terlihat begitu teduh dan jernih. Begitu jualah aslinya. Sungguh.

 

Berbeda dengan pantai yang seringnya panas, gersang, pantai satu ini teduh baget .. Saya pikir lebih cocok disebut telaga dibanding pantai. Dan dikelilingi dengan berbagai warung, sudah pasti salah satu menu khas Ternate, pisang goreng dengan sambal colo-colo tersedia. Ditambah lagi dengan penyewaan ban, puas deh datang ke sini apalagi membawa anak kecil.

Danau Tolire

Danau Tolire terdiri dari Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil, masing-masing hanya berjarak sekitar 200 meter satu sama lain. Dari kota Ternate, sekitar satu jam kurang untuk sampai ke Danau Tolire, melewati Pantai Sulamadaha. Tolire Besar seluas sekitar 5 hektar, dengan kedalaman di tengah yang belum diketahui, tidak ada yang mandi di danau, dan tidak ada yang memancing di danau, karena, konon, banyak buaya putih di berdiam di danau ini, dan, konon, tidak ada yang berhasil melempar batu dari pinggiran atas danau sampai ke danau, konon pula, di tengah danau tersimpan harta karun Kesultanan Ternate.

Tidak sulit menemui lokasi danau ini dari arah kota Ternate. Pertama kali melewati Tolire Kecil terlebih dahulu tepat di pinggir kanan jalan, lalu lurus sedikit, ketemu plang Danau Tolire di kanan jalan, belok kanan ikuti jalan menanjak, lalu sampailah di tempat parkir. Jalan kaki sedikiiit aja, terlihatlah Danau Tolire Besar yang berwarna hijau toska ini. Di balik berbagai ‘konon’ yang menyelimuti Danau Tolire, danau ini sangat cantik dengan hijau toskanya. Dan, sepertinya, seluruh ‘konon’ tersebut turut memoles keindahan danau Tolire. Tidak ada salahnya membeli segenggam batu yang dijual oleh bocah-bocah setempat, apa salahnya mencoba peruntungan melempar batu ke tengah danau. Setelah itu, coba rasakan pisang goreng dengan sambal colo-colo, sambil menikmati hembusan angin sepoi di atas pinggiran danau.

Dari Tolire Besar, dalam perjalanan pulang kami mampir ke Tolire Kecil. Seperti juga di Tolire Besar, di pinggir danau ada beberapa warung penjual makanan ringan. Begitu juga sepanjang pinggiran jalan raya menuju Tolire Kecil. Di sini malah, karena tempatnya semacam bukit kecil, disediakan bangku-bangku kayu untuk menikmati penganan ringan yang dipesan dari warung yang ada di pinggir jalan.

Cengkeh Afo

Setelah beberapa hari di kota Ternate, ada yang nanya? Ngga ke Cengkeh Afo? Apaan tuh? Pohon cengkeh tertua di Asia. Wah…menarik nih. Tempatnya dimana? Mmmm..kurang tahu, jauh dari sini. Di kaki Gamalama. Berbekal satu nama itu saja, dengan motor kami mencari jalan yang pokoknya menuju ke atas atau ke kaki Gamalama. Kalo dilihat dari kota, emang sih ada beberapa kampung di atas sana. Waktu di kota, katanya jalan menuju cengkeh Afo itu deket ama Pantai Sulamadaha. Setelah di sekitaran pantai, katanya jalan yang ke Afo ada di kota. Balik lagi ke kota. Ga perlu ya saya tulis sampe mendetil. Intinya, bukan ‘berputar-putar’ tapi ’lurus, naik turun naik’ untuk sampai ke Cengkeh Afo. Saya senang setelah akhirnya berada di kampung yang benar, kampung Marikurubu, tempat perkebunan cengkeh Afo. Sepertinya tempat ini bukan atau belum menjadi objek wisata. Entah pemerintahnya tidak jeli entah tidak tertarik. Untuk parkir motor, di parkir aja di pinggir jalan, hati-hati ya, karena jalan agak curam, jadi pastikan saat memarkir motor jangan sampai tergelincir saat kamu lagi berleha-leha di perkebunan. Setelah parkir, mari jalan santai agak menanjak di tengah perkebunan. Ada satu baliho besar yang menjelaskan mengenai cengkeh Afo ini. Di dalam perkebunan, ada 2 pohon yang kayaknya sih paling besar, dan saya menduga-duga sendiri, pasti ini si sesepuh cengkeh Afo ini. Jalan agak ke atas, ada pohon cengkeh yang sudah tersambar petir dan dikelilingi oleh pagar pipa. Saya menduga-duga, lagi, ini salah dua dari sesepuh Afo.

Cengkeh Afo sebenarnya terkenal, menurut saya, meski saya ga tau apa-apa tentang cengkeh, taunya juga setelah searching di rumah balik dari jalan. Itu juga karena ada embel-embel cengkeh tertua di dunia. Coba aja ‘search’ dengan keyword ‘cengkeh afo’. Varietas cengkeh Afo ini hanya tumbuh di pulau Ternate. Usia pohon Afo bisa mencapai sekitar 400-an tahun. Konon pula, cengkeh Afo ini adalah nenek moyang semua tanaman cengkeh yang ada di dunia.

Benteng Toloko

Dalam perjalanan kembali dari Pantai Sulamadaha, kita akan melewati Batu Angus, yang berupa bekas aliran lava meletusnya Gunung Gamalama, lalu beberapa benteng. Salah satu benteng yang kami datangi, Benteng Toloko. Sewaktu membeli makanan dalam perjalanan ke Tolihe, mata saya langsung terbetot dengan benteng ini, dan saya berujar dalam hati, saya harus sempatin masuk ke benteng itu. Karena belum terlalu sore, pulang dari Tolihe mampirlah kami ke benteng ini. Benteng yang cantik. Terletak agak tinggi dibanding lingkungan sekitarnya, dihiasi dengan taman yang terlihat tertata rapi. Dari benteng, kota dan pantai Ternate dapat terlihat jelas.

Kuliner Ternate

Setiap ada di satu tempat, saya usahakan mencicipi setidaknya satu aja makanan khas tempat itu. Begitu juga di Ternate. Dan…percayalah saudara-saudara, saya jatuh cinta dengan makanan Ternate ini. Katanya, makanan Ternate merupakan paduan dengan makanan daerah Papua, Ambon, dan Manado. Iyalah, wong diapit mereka semua. Mencari pisang goreng dengan sambal colo-colo? Mudah sekali, hampir di setiap warung penganan ringan ada. Ikan bakar? Banyaaakkkk…. Sayur-sayuran? Banyaaaakkk….

Dan dari semua, favorit saya adalah…Gohu Ikan. Ikan mentah, dicampur lemon dan garam, lalu disiram dengan cabe dan bawang yang sudah dicampur dengan minyak kelapa. Rasanya….ga bisa jelasin deh..terlalu enak. Ada juga sagu, yang dapat bertahan sampai berbulan-bulan, cocok disantap dengan makanan berkuah atau santan. Belum lagi pali-pali (semacam lontong), sayur lilin (dari tebu telur), nasi bambu, sayur garu (beragam sayur yang dicampur menjadi satu menjadi sayur garu), lalampa (semacam lemper berisi ikan), bagea, dan masih banyak lagi.

Ada beberapa restoran yang menyajikan menu khas Ternate dengan lengkap. Yang kami datangi adalah rumah makan Papeda, terletak di belakang pasar Gamalama. Tanya-tanya aja, seperti kami, gampang dicari kok tempatnya. Di rumah makan ini, penyajiannya mirip dengan rumah makan Padang. Semua menu langsung disajikan di atas meja. Pembayarannya dengan sistem ‘all you can eat’. Banyak atau pun sedikit, apapun jenis makanan yang kita ambil dari atas meja, harganya sama.

Masih ada tempat-tempat lain yang belum sempat kami datangi di Ternate, begitu pula masih ada begitu banyak makanan yang belum kami cicipi di Ternate.

Sedikit sedih saya ga bisa merasa semuanya, secara Ternate adalah tujuan pertama, dan masih ada tujuan-tujuan lainnya…

Untuk melihat gambar-gambar di Ternate, silakan klik link ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: