Mendekam di Atambua

Lama banget blog ini tidak di-update. Berbagai kejadian, kegiatan, dan lain-lain terjadi cukup serentak dalam setengah tahun terakhir.  Yang bikin semakin aduh aduh aduh, sebagian besar yang terjadi itu menguras habis emosi dan perasaan…mau bagaimana lagi, terlantarlah blog ini, termasuk berbagai kegiatan berkreasi lainnya.

Dengan mendorong, mensugesti, dan meng-ayo-ayokan diri sendiri, 2 minggu terakhir saya kembali sekeras mungkin berdisiplin dalam berkarya. Dan sekarang lagi menelusuri balik saat kami di Atambua.

  

Saya punya seorang temen konyol dengan bentuk tubuh seksi dan muka uh…simpatik. Kami berkenalan saat di Yogya. Setelah beberapa tahun tinggal di Yogya, ia pulang ke kampung halamannya, apalagi kalau bukan menjadi pemuda yang berbakti kepada kampung halaman dan memikat seseorang dari kampung halamannya. Dan kampung halamannya itu adalah Atambua. Sejak itu, nama Atambua tersimpan rapi di sudut otak saya, bersama lusinan nama-nama tempat lainnya. Nah, sewaktu di Alor, saya berencana akan mampir ngeliat Timor Leste. Kapan lagi pikir saya, udah deket ini, dan, di antara lusinan nama di sudut otak saya itu, salah satu nama adalah Cristo Rei, patung Yesus setinggi 27 m di kota Dili, Timor Leste. Itu harapan saya saat baru mulai berencana ke Alor, ‘semoga bisa ke Timor Leste’.

Seperti biasa, masalah searching rute transportasi laut ibarat anak tiri yang sangat dibenci kalo dibanding dengan transportasi udara. Situs resmi Pelni pun bagi saya belum bisa dikategorikan user friendly, masih kalah jauh banget ama….situs Lion Air misalnya. Hanya setelah tiba di Alor saya baru bisa mulai mengecek kapal-kapal laut reguler dari Alor ke Timor Leste. Dan sudah tidak ada ternyata, kecuali dari Alor, lalu ke Maritaeng, lanjut ke Atapupu, kabupaten Belu, lalu lanjut jalan darat ke perbatasan Indonesia-Timor Leste yang berjarak sekitar 15 km. Dan dari situ saya baru tahu, dari pelabuhan Atapupu belok kiri ke perbatasan Motatain, belok kanan ke kota Atambua, dan itu cuman sekitar setengah jaman aja. Nah…info menarik…Atambua yang tadinya hanya mendekam di sudut otak, mulai menyeruak muncul di permukaan.

Setelah menyeberang dengan kapal barang dari Alor selama sekitar belasan jam ke pelabuhan Atapupu, lalu lanjut ke Dili selama beberapa hari, mampirlah kami di Atambua. Aha….akhirnya Atambua tidak lagi berada di sudut otak. Berbekal alamat yang udah di-sms oleh sang teman, bapa supir angkot mengantar kami langsung sampai depan rumah sang temen. Ia udah nunggu petantang-petenteng di pinggir jalan depan rumahnya. Senangnya bertemu teman lama kembali. Namanya Baba.

Kami tidak bepergian alias mengeksplor Atambua. Lebih banyak meluangkan waktu untuk ngobrol ngalor-ngidul, becanda, berada dalam lingkungan keluarga.

Perjalanan tidak hanya mengenai destinasi, transportasi, akomodasi. Proses, interaksi, kehangatan, kekecewaan, pertemuan, perpisahan, presentasinya lebih tinggi dalam suatu perjalanan. Dan itulah kenapa saya dengan rela hati menjadi pecandu perjalanan.

Tapi kayaknya, putaran waktu ga mau biarin saya ama si bocah berdiam diri lebih dari 2 hari aja di satu tempat kalo pas lagi jalan. Entah kebetulan atau tidak, Baba dan keluaganya harus mengadakan rapat keluarga di kabupaten Malaka, sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan dengan kendaraan dari Atambua. Malaka ini merupakan kabupaten baru, pemekaran dari kabupaten Belu, dengan ibu kota Betun. Saya beruntung dapat menyaksikan rapat keluarga dan bertemu keluarga besar teman saya. Pulang pergi kami beramai-ramai duduk di bak kendaraan pick-up sewaan. Wah….seru banget. Jalan raya dari Atambua ke Atapupu bagus banget, mulus, dan melewati perbukitan.

Di kota Atambua sendiri, yang merupakan ibu kota kabupaten Belu, kami cuma keliling-keliling kota, maen ke pasar (saya termasuk penggemar pasar), ke alun-alun, dan karena saat itu hari raya Lebaran hari ke-2, saya ikutan dong berkunjung ke teman-temannya Baba. Satu yang bikin salut. Mereka sepasang suami istri dari Jawa, udah sekitar 15 tahun-an di Atambua. Awal datang, mereka keliling berjalan kaki, berjualan nasi kuning. Usaha itu terus mereka tekuni sampai sekarang. Dari awalnya berkeliling jalan kaki, sekarang mereka punya beberapa gerobak yang mangkal di lokasi tertentu untuk tempat menjual nasi kuning, pegawai, rumah pribadi, anak-anak yang mampu melanjutkan kuliah di Jawa, dan tetap berjualan nasi kuning.

Konsisten dan tidak patah semangat adalah pelajaran yang saya ambil dari mereka.

Ah…hampir lupa mengatakan betapa saya menyukai menu makanan Atambua….dan, akhirnya, setelah beberapa hari beristirahat di rumah teman saya itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Atambua – Kupang dapat ditempuh dengan bis, sekitar 6 jam, dengan jalan yaaahh…berkelok-kelok, tapi lebih lumayanlah dibanding rute Flores :).

(Visited 59 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: