Sabu itu di mana ya, lho…ngapain ke sana?

Lho….kok bisa sering ke sini?

Kenapa saya bisa nyasar ke pulau yang terletak di sebelah selatan Laut Sawu, sebelah timur pulau Sumba, dan sebelah barat pulau Rote ini, yang berjarak 14 jam-an dengan kapal laut dan 45 menitan dengan pesawat dari kota Kupang? Dan bolak-balik ke sini juga untuk apa?

selamat pagi matahari

Itu mah pertanyaan gampang. Kakek dari ibu saya berasal dari Sabu, pulau terpencil di antah-berantah ini. Sewaktu masa muda dulu, ia meninggalkan pulau ini dan mengadu nasib di beberapa kota besar sebelum akhirnya menetap dan menghabiskan sisa hidup di pulau Lombok, NTB. Seperti ihwalnya para sesepuh, begitu pula kakek saya, yang sayangnya, telah meninggal saat saya lahir, harapan untuk satu saat bisa pulang ke kampung menghembuskan napas terakhir di sana, tetap terpatri dalam jiwa raganya. Meski tidak bisa terpenuhi semasa hidupnya, bertahun-tahun setelah ia meninggal, saat keuangan keluarga kami telah sangat membaik, ibu saya memboyong suami dan anak-anak serta cucu-cucunya untuk ke kampung. Mudik ke Sabu. Akhirnya, saya pun secara tidak sadar telah jatuh kangen dengan Sabu, kalau tidak mengunjunginya dalam waktu cukup lama. Mungkin ini yang disebut ‘racun’ turun-temurun. Dan terus-terang aja, saya bangganya minta ampun karena setengah darah saya berasal dari Sabu. Bukan karena Sabu-nya, tapi karena saya berasal dari pulau kecil yang tidak banyak orang tahu, pulau yang di peta hanya berbentuk titik kecil doang. Untuk saya, itu keren banget.

Seperti apa Sabu?

Lanskap Sabu adalah campuran antara sedikit perbukitan dan banyak lahan datar, dengan warna coklat mendominasi di musim kering, berbalik ke warna hijau saat musim hujan. Jalan utama cuma satu, mengelilingi pulau Sabu, yang berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan di beberapa titik jalan. Kalau menyusuri jalan utama ini, di kejauhan akan terlihat kuda-kuda Sabu sedang merumput di bukit-bukit, dan perasaan saya, dari tahun ke tahun, semakin sedikit saja kuda yang dapat saya lihat. Kalau suka suasana seperti film-film koboy di Amerika jaman dulu, saya jamin, pasti suka dan betah berada di Sabu. Kalau sukanya dengan keramaian, mall, dan adiksi tingkat tinggi terhadap koneksi internet, mending ga usah dateng aja ke Sabu, cari destinasi lain. Cukup menikmatinya dengan membaca tulisan saya ini aja yaaaaa….

lanskap Sabu

Kalau ke Sabu, saya tinggal di kampung adat tempat kakek saya berasal, di kampung adat Bebae. Kampung ini sekitar 2 jam dari pusat kota, Seba. Biasanya di hari pertama kami menginap di kampung adat. Hari selanjutnya, di kampung Parajara, tempat keluarga juga. Nah kalo di tempat keluarga yang ini, duh….saya berasa tinggal di vila idaman. Vila idaman untuk saya adalah aliran angin lancar, terkadang kencang, kalo keluar dari pintu rumah, langsung terhampar pemandangan lepas, bukannya pagar batu. Ada tempat duduk-duduk untuk merenung, mereview, menulis di luar rumah. Nah, rumah tempat keluarga ini menyediakan semua gambaran vila di benak saya.

Di Seba, pusat kota, juga tempat pelabuhan dan bandara, serta pusat pemerintahan. Udah ada bandara kok di sini, bisa diakses dari Kupang, Sumba, Ende, dengan pesawat Susi Air yang imyut-imyut itcuh….Kalo dengan kapal laut, ada kapal PELNI, salah satunya KM Awu dan KM Wilis, yang menyambangi pulau Sabu dengan lama waktu sekitar 12 jam, ada juga kapal cepat, yang emang cepat banget, hanya sekitar 4 jam dari kota Kupang ke pulau Sabu. Saya ingetin aja, ombak selat Sabu bukan ombak yang adem ayem seperti di perairan Lombok-Bali, misalnya. Ombaknya agak-agak galak, laiknya temperamen orang timur pada umumnya kalo digoda dan tidak suka. Iya sih, ini saya menggeneralisir aja. Ga usah dipercaya.

kampung Bebae

Kembali ke kampung saya ya. Air masih menjadi barang langka di sini, bukan karena kering, tapi karena sumber mata airnya ada di kampung bawah, sekitar setengah jam berjalan kaki dari kampung. Jadi, kalo keluarga jauh datang berkunjung, saudara-saudara di kampung sibuk naik turun bukit mengangkut air untuk keperluan mandi, buang hajat, serta bersih-bersih keluarga jauh itu. Saya selalu sedih ngeliatnya. Karena saya orang yang menganggap, kalo ada di suatu tempat, sudah selayaknya lah kita mengadaptasi atau bertindak sesuai apa yang orang di tempat tersebut lakukan. Istilahnya, dimana bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Tapi kadang emang sih langit terlalu berat dan bumi bergoyang-goyang, sehingga pepatah tersebut kadang sulit diterapkan untuk sebagian orang. Aye, bumi bergoyang, kapten.

Di kampung saya banyak babi berkeliaran, piaraan lah, bukan liar, banyak pohon lontar, dan, jalan turun sekitar 10 menit aja udah sampai ke pantai. Cuma pantainya ga cocok untuk renang, ombak dan arusnya keras. Untuk renang, setau saya yang orang awam ini, bagusnya di pantai daerah Raijua. Kalau males maen air laut, bisa maen di kolam mata air. Eh…ada lho, namanya Lokoaimada, di kampung Bolou. Airnya dingin banget. Ga usah malu mandi di sini, tempat laki dan perempuan dipisahkan kok.

Sekitar 2 jam dari kampung saya, atau 45 menit-an dari pusat kota, Seba, ada tempat yang super duper keren, namanya Kelebba Maja, di desa Raerobo. Jalan ke arah sana cukup bagus, berkelok-kelok, dan ngajarin kita untuk bersosialisasi…kalo perginya tanpa ditemenin orang lokal. Karena, sama sekali ga ada petunjuk arah, jadi, di setiap belokan, harus selalu nanya ama orang setempat, kalo ga mau nyasar. Kalebba Maja ini berbentuk bebatuan yang berasal dari pasir yang sudah mengeras dan berwarna-warni fantastik, berubah-ubah tergantung pada arah sinar matahari.

Kelebba Maja

Ada juga benteng lho di Sabu. Salah satu yang pernah saya kunjungi namanya benteng Haruti. Bentuknya bulat, dipenuhi berbagai pohon dan bebatuan, dengan batu kapur dan karang laut sebagai tembok keliling. Masuk di dalamnya seakan terpisah dari dunia di luar tembok keliling.

Selain itu, apa lagi? Banyak sih, tapi karena saya belon pernah ke sana, ya saya juga ga bisa nulisnya :).

Nah…tulisan ini memang tidak bisa menggambarkan Sabu secara utuh, secara saya juga ga bisa sering-sering saban bulan ke Sabu untuk lebih bisa mendalami pulau manis ini. Tapi, paling tidak, semoga setelah membaca tulisan ini, mentemen mulai nabung atau segera packing dan berangkat traveling.

Mari menjadi pejalan yang bijak dengan menghormati budaya setempat dan tidak membuang sampah sembarang


Untuk melihat gambar-gambar lain mengenai Sabu, silakan klik link ini.

(Visited 84 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: