Tanah Umbu dan Ratu, Sumba Barat

Setelah 3 jam di dalam bis dari Waingapu, sampai juga di Waikabubak, Sumba Barat. Karena saya cuma tau nama penginapan rekomendasi dari temen, tanpa tau nama daerahnya, dan saya pikir perhentian terakhir bis di terminal Waikabubak, yang ternyata tidak, akhirnya saya turun sekitar setengah jam di luar kota Waikabubak. Ya..intinya sih, kurang komunikasi. Akhirnya, sebelon kak kondektur bingung nih penumpang mau diturunin dimana, saya bilang aja turun di warung makan, yang mana aja. Lapaaarrrrr…..

Setelah perut terisi, mata terbuka, pikiran berjalan, barulah nyari ojek ke penginapan Karanu, yang direkomendasikan ama calon temen saya, yang ternyata rumahnya cuma di seberang penginapan. Kok calon? Karena memang kami belon pernah ketemu, cuma bersapa lewat sms ama telpon aja. Jadi, si calon temen ini sodaranya sahabat saya. Beberapa lama setelah kami bertemu di penginapan, beramah-tamah, naek motor berjalan-jalanlah kami ke Waikelo Sawah, terletak di desa Tema Tana, Kecamatan Wewewa Timur. Tempat ini sejuk, berada di tengah sawah dengan saluran irigasi yang berasal dari dalam gua. Cukup ramai juga dikunjungi ama penduduk setempat, ada juga yang jualan kopi, kudapan ringan. Asik lah untuk nongkrong. Ga jauh juga dari Waikabubak, sekitar 15 menit kurang berkendara motor. Kalo pake bemo, minta turun di jalan menurun ke Waikelo Sawah, lalu berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer.

Waikelo Sawah – sekitar 15 menit dari kota Waikabubak

Karena seperti juga Sumba Timur, jauh lebih gampang untuk berjalan dengan menggunakan mobil sewaan atau rombongan, dan berbagai pertimbangan yang semuanya berujung pada satu kata: dana, saya putuskan untuk tidak terlalu lama berada di Waikabubak. Pengen sih ke tempat-tempat laen di Waikabubak yang saya denger, salah satunya danau Weekuri. Tapi ya…mau gimana lagi. Setelah berkenalan dengan temen-temen baru, nyobain moke, dan berkeliling kota, saya putuskan untuk segera naek kapal ke Bima. Karena tujuan berikutnya emang Bima, trus nyebrang ke Flores.

Kebetulan juga sih, kata orang-orang yang saya temui, kapal laut ke Bima berangkat besok pagi jam 10. Jam 8 pagi keesokan hari, dengan dianter ojek, saya udah nongkrong manis di pelabuhan, dan sangat terkejut, sedikit shock, ngeliat pelabuhan begitu sepi. Sepi yang bener-bener sepi, hanya ada satu orang penjual minuman. Saya lantas bertanya ama ibu penjual. Kapal ke Bima kapan dateng Bu? Si ibu jawab, ‘Kapal ke Bima sudah berangkat kemaren pagi. Berangkat lagi besok pagi’. ‘Duh…’. Udah deh…saya ga bisa ngomong apa-apa, selaen, ‘Tolong buatin kopi satu gelas dong Bu.’ Naro kerir, nawarin pak ojek rokok dan kopi, tapi yang diterima cuma rokok, dan ia berlalu pergi dengan berpesan, ‘Baek-baek di jalan ya bu.’

Dengan segelas kopi dan sebatang rokok, akhirnya saya menyatu dengan suasana. Tidak khawatir, tidak berpikir sekarang akan kemana, mo ngapain, atau setelah ini apa lagi. Hanya berada di sana, seutuhnya.

Dan, saya ngobrol-ngobrol dengan ibu penjual. ngobrol-ngobrol panjang dan lama, bercerita tentang keluarganya, tentang Sumba Barat, tentang harga tanah yang terus merangkak naek, tentang pemerintahan setempat, tentang segala macam…dan akhirnya, tentang danau Weekuri. ‘Kok ga ke sana?’ ‘Mahal, uang saya ga cukup kalo nyewa mobil, ato ibu mau nyewain motor ke saya, ntar saya ke sana sendiri’ ‘Wah jangan…’ (dengan alasan yang xxx xxx xxx). Saat suami ibu datang, mengantar termos air panas untuk buat jualan teh ama kopi (rumah mereka berada satu area dengan pelabuhan), si ibu ngasitau suaminya, yang intinya, ada ga ya mobil yang bisa kita sewa dari keluarga, untuk ke danau Weekuri. Dan setelah si bapak dan ibu menelpon ke sana-sini, sekitar sejam kemudian, udah ada mobil pickup terparkir di depan kami. Dan, setelah menaruh kerir di rumah ibu, yang deket banget ama pelabuhan, dan membereskan dagangan ibu, begitulah….kami meluncur ke danau Weekuri, bareng ama keluarga ibu, si bapak nyetir.

Laguna yang sangat bening ini sekitar 2 jam dari Tambolaka

Kalo dengan kendaraan pribadi, danau Weekuri ga terlalu jauh, sekitar 1.5 jam, dengan rute standar. Maksud saya, jalan beraspal tetapi tidak mulus, jalan kadang berkelok kadang lurus. Danau ini aduh…bagus banget. Semacam laguna gitu. Di sekelilingnya ada beberapa penjual kain Sumba, ada juga yang jual kopi. Restoran? Belum ada. Kalau mau, buat sendiri aja, sekalian invest. Danau Weekuri terletak di desa Kalenarogo, kecamatan Kodi Utara, Sumba Barat Daya. Air danau ini sangat jernih, berwarna hijau toska, dan dikelilingi tebing.

Sekitar 10 menit dari Weekuri, ada pantai Mandorak. Juga dikelilingi tebing, dan membentuk semacam pantai pribadi dengan ombak yang tenang. Fuhhh…. what a place. Ngecamp di sini, berbekal tenda dan logistik, dijamin seru.

Dalam perjalanan balik ke pelabuhan, kami mampir ke pasar yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Kami berbelanja ikan, sayur, untuk pesta bersama makan malam. Dan bergotong-royonglah kami menyiapkan makan malam yang hangat bersahaja serta lezat ini. Semacam pesta perpisahan, sebelum berangkat ke Dompu pukul 8 pagi besok.


Untuk melihat gambar-gambar mengenai Sumba Barat, silakan klik link ini.

(Visited 80 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: