Taman Nasional Takabonerate

Pukul 3 pagi. Mata masih malas-malasan terbuka. Enggan sekali menapaki jalan menuju dermaga. Masih harus berjalan sekitar 45 menit. Sesuai kabar semalam dari salah satu staf taman nasional, kapal kayu berangkat pukul 5 pagi dari dermaga Selayar menuju pulau Tinabo kecil.


terminal Malengkeri

Kami baru tiba semalem, sekitar pukul 9 di kota Benteng, pulau Selayar. Tepatnya, baru tiba 2 hari lalu tiba di Makassar. Setelah istirahat sehari di salah satu ruas jalan deket pantai Losari yang penuh penginapan murah meriah, sesuai informasi, subuh kami sudah naik pete-pete ke terminal Mallengkeri untuk naek bis menuju pulau Selayar. Bisnya bersih, lebar. Nyaman sekali. Takjub juga. Saya pikir, bisnya model ekonomi gitu deh…. Sekitar pukul 10 pagi, bis jalan dari terminal, mampir sekali untuk sholat (waktu itu lagi bulan puasa), dan sore hari bis tiba di penyeberangan pelabuhan Bira menuju pelabuhan Pamatata. Lama penyeberangan sekitar 2 jam. Dari pelabuhan Pamatata ke kota Benteng, ibu kota Selayar, sekitar 1 jam.

Ups… kamu di Sulawesi toh. Iya. Dari duluuuu banget saya pengen ke Sulawesi, dari kecil malah, sejak tahu bahwa ada yang namanya Sulawesi di Indonesia. Saya lupa bagian apa dari Sulawesi yang buat si shirley kecil itu pengen banget ke Sulawesi. Seingat saya, Sulawesi daerah pertama yang pengen saya kunjungi dalam imaji pejalan saya semasih bocah. Belasan tahun kemudian barulah saya bisa mengunjungi tanah ini.

Imaji bocah berjalan bersama si bocah :). Sulawesi ini juga menjadi journey serius pertama si bocah. Bukan lagi sekedar tujuan yang bisa ditempuh dengan roda dua dalam satu kali perjalanan. Karena Sulawesi luas, saya ngebatasi tujuan kali ini hanya ke Takabonerate ama Wakatobi, sukur-sukur bisa sampai Tana Toraja. Semuanya dengan jalur darat dan laut. Kalo saya lihat di peta, lucu juga rutenya, datar, terus naik, turun, naik lagi. Lalu, apa yang memutuskan kamu ke Takabonerate? Namanya lucu….hahahaha ga kok. Dari awalnya cuma pengen ke Sulawesi, saya ngerucutin jadi cuma Sulawesi Selatan aja, lalu keluarlah nama Takabonerate di layar komputer. Searching ber-searching, ketauanlah kalo Takabonerate ini atol terbesar ke-3 di dunia. Meski saya tidak bisa diving, berenang pun agak malas, bukan karena tidak suka berenang, tapi saya kurang suka basah. Karena kalo basah, saya jadi kerepotan kalo pengen moto :). Wah, tempat ini pasti menarik. Dan karena kalo ditarik garis lurus tempat ini terlihat deket ama Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ya udah, 2 tempat ini yang pasti akan kami datangi. Dan karena searching di web ga banyak hasil mengenai rute pasti jalur darat dari Takabonerate ke Wakatobi, ya sudahlah, nanya-nanya aja ntar di tiap daerah yang kami singgahi. And the story goes…

Pulau Tinabo

Sewaktu di Bali, saya sudah menghubungi salah satu staf Balai Taman Nasional Takabonerate untuk nanya-nanya informasi. Agak ciut juga sewaktu masih di Bali denger kabar dari si bapak bahwa untuk ke pulau Tinabo, pusat Takabonerate, dari pulau Selayar hanya dapat menggunakan kapal taman nasional, dan itu sangat mahal, jauh di luar dana yang saya punya. Tetapi, hanya makan waktu kurang lebih 4 jam saja. Kapal kayu juga ada, tetapi juga harus nyewa, meski lebih murah, ya tetep aja ga kesampean ama saya. Ya udahlah, pikir saya, datang aja ke Selayar, kalo ada alternatif murah, ya nyebrang, kalo ga, ya udah, muter-muter di Selayar aja. Setelah tiba di Selayar, saya memberitahu bahwa saya sudah tiba kepada si bapak. Setelah tiba di losmen, yang juga direkomendasiin ama si bapak, eh si bapak nongol, ngasitau kalo mau murah, saya bisa ikut kapal kayu penduduk, tapi jalurnya muter dan lama, dan berangkatnya besok subuh. Sip…berita yang sangat bagus.

Dan berjalan kakilah ibu dan anak itu pukul 3.30 subuh, dengan gontai karena dingin dan masih terserang kantuk. Iseng aja saat beberapa kali kendaraan roda 2 lewat, saya mengacungkan tangan kanan. Sukur-sukur ada yang mau numpangin. Minimal si bocahlah, kasian juga ngeliat dia jalan subuh-subuh, sambil ngegendong backpack-nya. Tidak ada. Sampai setelah sekitar 15 menit jalan, ada motor berhenti, dan suara berkata, mau ke dermaga ya, sebentar ya, saya antar, saya tukar motor dulu. Ga berapa lama, si pengemudi, seorang remaja SMA, kembali dan mengantar kami berdua ke dermaga, yang meski sebenarnya tidak jauh lagi, tetap aja lebih enak pake motor. Dan, momen semacam inilah yang saya sebut dengan ‘mukjizat’.

di dalam kapal kayu

Kapal kayu rakyat ini jelas tidak langsung menuju pulau Tinabo, melainkan transit menurunkan penumpang ke pulau Rajuni Besar, lalu menginap di Rajuni Kecil, perhentian terakhir, karena pak Nakhoda berumah di sana. Untuk ke Tinabo, harus dilanjutkan keesokan pagi dengan sampan kecil dari Rajuni Kecil ke Tinabo. Satu lagi keuntungan bagi saya dengan jalan semacam ini. Saya jadi bisa menginap di Rajuni Kecil, dan berkenalan dengan penduduk serta seluruh keluarga pak Nakhoda, serta turun ke beberapa pulau lain saat kapal bersandar nurunin penumpang.

Kapal tiba di pulau Rajuni Kecil menjelang sunset. Dan yang berarti juga menjelang buka puasa. Setelah berlayar dari pagi sampe sore, berlabuh di darat adalah suatu kegembiraan. Turun dari kapal, berjalan hanya beberapa langkah, sudah rumahnya pak nakhoda, masuk lewat pintu belakang. Ya, halaman belakang rumah pak nakhoda dan tetangganya adalah laut. Setelah memperkenalkan diri, saya langsung keluar lagi lewat pintu belakang, sudah menduga apa yang akan saya temukan. Ya. Sunset yang sempurna. Dan anak-anak sedang berenang di pantai, beberapa sampan baru tiba, sedang menuruni bawaan. Langit senja. Larikan matahari di laut. Hamparan senja.

Malam itu, kami ngobrol beramai-ramai, saling bercerita. Keesokannya, yang saya kira akan diantar oleh satu orang ke pulau Tinabo, ternyata diantar beramai-ramai oleh istri, anak, dan keluarga pak Nakhoda. Tidak lama, hanya sekitar setengah jam sampai 45 menit dengan sampan dari Rajuni Kecil ke Tinabo. Tak berapa lama, mereka sekeluarga kembali ke Rajuni, dan saya berbincang dengan penjaga Resort mengenai penginapan. Paling murah ya sewa tenda, mau lebih murah lagi, ya bawa tenda sendiri, atau tidur di pante pake sleeping bag.

Malam itu, saat membaringkan badan di dalam tenda, terasa sangat lelah…dan sangat nyaman.

Selain pemandangannya yang emang cakep banget, lautnya yang luar biasa, pulau Tinabo ini sangat terkenal dengan….hiu jinak…yang berenang-renang santai di tepi pantai. Tetapi, sejinak-jinaknya hiu, tetap aja binatang liar. Si bocah dengan sangat yakin menyodorkan daging kepada para hiu, dan dengan lahap, para hiu menyambar daging-daging tersebut, salah satu hiu dengan terlalu bersemangat menyambar daging yang dijepit oleh kedua jari si bocah, sekaligus menyambar satu jarinya. Dan itu sakit, teman-teman.

Rute pulang sama seperti rute datang. Sekitar pukul 10 pagi, kami dijemput oleh Bu Haji beserta anak-anaknya dengan sampan kayu. Setelah menginap semalam lagi di pulau Rajuni Kecil, kami kembali ke Selayar juga dengan menggunakan kapal kayu Pak Haji. Kali ini, kami menyempatkan diri beristirahat di Selayar sebelum melanjutkan perjalanan ke Wakatobi. Kami menginap di homestay yang asik banget. Suasananya santai, bangunannya terbuat dari kayu, dan tepat di sebelahnya ada restoran kecil. Homestay ini dikelola oleh xxx. Untuk keliling di Selayar, kami menyewa motor. Cukup banyak tempat wisata yang mudah dikunjungi. Pantai Pasi, pantai Liangtembus. Beberapa yang kami sempat kami datangi….. cek down.

Kampung Tua Bitombang

Jarak kampung tua Bitombang dengan pusat kota Benteng hanya sekitar 7 km atau setengah jam perjalanan dengan motor. Keunikan kampung ini ada di bentuk rumah yang menyesuaikan dengan kontur tanah yang berlereng. Rumah-rumah di sini dibangun dengan kayu-kayu tinggi menjulang, sampai setinggi sekitar 15 meter. Usia rumah-rumah di sini sampai 200 tahun, karena itulah dinamakan kampung tua.

perkampungan tua Bitombang

Jangkar Raksasa dan Meriam Kuno

Kedua benda ini merupakan salah satu peninggalan historis di pulau Selayar. Terletak di kampung Padang, desa Bontosunggu, hanya berjarak sekitar 7 km dari kota Benteng. Jangkar raksasa ini merupakan peninggalan saudagar Cina, kembali ke abad 17. Kalau meriam kuno, alkisah milik saudagar dari Gowa yang kemudian menetap di kampung Padang. Jalan menuju kampung Padang sangat cantik, seakan membelah tengah laut, dengan rumah-rumah berada di atas air. Sempatkan berhenti sejenak di pinggir jalan untuk menikmati pemandangan yang cantik itu.

ruas jalan menuju kampung Padang

Kampung Penyu

Satu lagi tempat  yang sempat kami datangi, kampung Penyu. Kampung ini terletak di desa Barugaia, kecamatan Bonto Manai. Seperti juga tempat lainnya, kampung ini hanya berjarak sekitar 10 km dari kota Benteng.

Untuk melihat gambar lengkap di Taman Nasional Takabonerate, silakan masuk ke link ini.


senja di Rajuni Kecil
(Visited 110 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: